Bendungan Meransang Petani Mencetak Sawah Baru

Selain berfungsi untuk penyediaan air baku untuk kebutuhan vital manusia dan hewan ternak, bendungan juga berfungsi untuk pengairan dan irigasi pertanian. Akan tetapi fungsi ini tidak bisa diakomodir jika kelompok masyarakat pemilik lahan terus melakukan aksi-aksi penolakan atas niat baik pemerintah membangun bendungan.

 Kupang, citra-news.com –TIDAK kita pungkiri jika infrastruktur yang baru mau dibangun pemerintah selalu mendapat penolakan dari masyarakat. Dan alasan klasik dari penolakan itu adalah lahan yang mau dibangun bendungan itu adalah tanah ulayat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. Yohanis Tay Ruba, M.Si mengatakan, masalah penolakan kelompok masyarakat akan kehadiran bendungan sudah biasa terjadi. Namun hal ini akan bisa berubah jika pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya memberikan pemahaman secara terus-menerus tentang manfaat dari infrastruktur bendungan.

“Saya melihat ada beberapa hal yang ikut berpengaruh didalamnya. Diantaranya ketidaktahuan masyarakat itu sendiri tentang manfaat dari bendungan yang akan dibangun. Akan tetapi kalau infrastruktur tersebut sudah jadi dan ada beberapa kelompok masyarakat yang mulai memanfaatkan, yang lain pasti akan ikut,”kata Anis di gedung DPRD NTT, Senin 04 Mei 2018.

Kepada wartawan Anis mengatakan, sudah ada beberapa contoh yang sekiranya bisa dijadikan sebagai bahan pembanding. Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang contohnya.  Ketika awal pemerintah berencana membangun bendungan, ada kelompok-kelompok masyarakat yang mengaku pemilik tanah ulayat, mereka menolaknya. Akan tetapi setelah bendungan terbangun banyak masyarakat yang minta untuk lahan miliknya dicetakan sawah. Ini membuktikan kehadiran bendungan dapat merangsang petani untuk mencetak sawah baru.

Karena demikian banyaknya animo permintaan masyarakat ini, lanjut Anis, pihaknya mencetak sawah menggunakan system blok dan dilakukan pertahap.  Untuk tahap pertama direncakan sebanyak 830 hektar. Dari luasan yang ada ini baru beberapa blok saja yang tercetak. Dengan catatan blok yang mau dicetak sawah sudah tidak ada lagi masalah soal status tanah dan kepemilikannya.

Menurut Anis, adanya bendungan memberikan dampak ganda bagi masyarakat. Air yang berlimpah menggairahkan masyarakat untuk membuka usaha pertanian. Tidak saja untuk tanaman padi juga tanaman holtukulura lainnya.

“Karena kita ketahui bersama  saat ini pemerintah terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan produksi pertanian. Selain padi juga jagung dan kedele atau kacang-kacangan. Tidak terkecuali sayur-sayuran, bawang merah dan bawang putih. Ini dalam kerangka mendukung program swasebada pangan nasional (SSP). Untuk NTT selain Pajale (padi-jagung- kedele juga pengembangan peternakan untuk perkuat SPP dimaksud,”paparnya.

Khusus untuk pengembangan bawang, tambah Anis, beberapa kabupaten yang dijadikan klaster diantaranya Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Kabupaten Malaka, Kabupaten TTS, juga Kabupaten Belu. Khususnya Kabupaten Malaka produksi bawang berlimpah rua berkat irigasi dari bendungan benenain. Dan sebulan yang lalu produksinya mencapai 100 ton lebih bawang merah yang diantarpulaukan. +++ cnc1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *