Dipastikan JOKOWI Lakukan Ground Breaking Jembatan Palmerah

Andre Koreh: Pembangunan jembatan Pancasila Palmerah tidak sekadar interkoneksitas perekonomian antarpulau di Provinsi NTT atau khususnya hanya menghubungkan pulau Adonara dengan pulau Flores. Tapi lebih dari itu sebagai pusat pembangkit tenaga listrik.

Kupang, citra-news.com –  RAKYAT NTT khususnya bukan saja kecewa dengan penundaan waktu Presiden Joko Widodo melakukan ground breaking (peletakan batu pertama) pembangunan jembatan Pancasila Palmerah itu. Akan tetapi fisik jembatan multi fungsi itu segera dibangun sehingga pranata kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat mulai dipersiapkan lebih dini.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, pembangunan jembatan Pancasila Palmerah menjadi penghubung perekonomian antar wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu menjadi pusat pembangkit listrik dengan daya (tegangan) tinggi.

Untuk pemanfaatan daya listrik turbin yang dibangun di Jembatan Pacasila Palmerah, menurut Lebu Raya, saat ini proses feasibility study (FS) dan Detail Engeneering Design (DED) sudah selesai dilakukan. Investor Belanda dalam hal ini Tidar Brigde dan PT PLN Persero sudah menyepakati harga tarif listrik (TL) sebesar 14 sen dolar As per kilowatt hour (KWH) yang siap dibeli PLN dari investor.

“Perhitungan-perhitungannya sudah final, tinggal saja pelaksanaannya setelah pembangunan jembatan tersebut selesai dibangun,”kata Lebu Raya.

Menjawab kepastian waktu ground breaking oleh Presiden Jokowi, Lebu Raya mengatakan, kita berharap pada bulan Juni 2018.  Waktu persisnya kapan kita menunggu kepastian dari Bapak Presiden, tandasnya.

Sebelumnya terkait pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah di Kabupaten Flores Timur, Kepala Dinas Perkerjaan Umum Provinsi NTT (PU NTT) Ir. Andreas Wiliam Koreh, MT mengatakan, pihaknya telah menyurati Presiden Joko Widodo untuk melakukan ground breaking.

“Kita sudah menyurati dan Bapak Presiden Jokowi menyatakan bersedia melakukan breaking ground Jembatan Pancasila Palmerah. Meskipun waktunya sudah beberapa kali mengalami penundaan. Sebetulnya yang direncanakan pada tanggal 1 Juni 2018 tepat peringatan Hari lahir Pancasila.  Namun ini mengalami penundaan lagi. Yang pasti kalau bapak Presiden  tidak berhalangan waktu maka diperkirakan dalam Bulan Soekarno Juni, Bapak Presiden akan lakuka ground breaking. Nanti kepastian waktunya akan diumumkan ke public,”jelas Andre.

Menurut dia, pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah yang menghubungkan antara Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur dengan Pulau Adonara itu menelan dana sekitar 200 juta US Dollar atau sekitar Rp 3 triulin Rencana pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah tersebut sudah melalui tahapan pra visibility study yang juga sudah selesai dilakukan. Sehingga dipandang layak untuk dibangun. Demikian juga pihak investor sudah  menyatakan kesanggupannya dan siap membangun. Yakni Investor asing dari Belanda dalam hal ini PT Tidar Bridge, tandasnya.

Pembangunan jembatan Pancasila Palmerah ini, lanjut Andre, sangat prospektif. Karena tidak hanya sebagai jembatan penghubung antara pulau Flores dan pulau Adonara. Akan tetapi memberi manfaat ganda (multi fungsi). Selain memperlancar arus lalu lintas perekonomian masyarakat, juga menjadi pusat pembangkit tenaga listrik. Karena dilengkapi dengan turbin penggerak yang menghasilkan tenaga (daya) listrik.

Untuk pemanfaatan arus laut dari Selat Gonsalo yang menghasilkan tegangan lisrik bertegangan tinggi, jelas Andre, PT Tidar Bridge membangun turbin pembangkit daya lisitrik. Pelaksanaannya sesuai dengan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam hal ini pihak PT Tidar Brigde sudah bekerjasama dengan PT Wijaya Karya (WIKA) yang adalah BUMN lingkup Kementerian PUPR untuk pembangunan pembangunan jembatan dan pembangkit listrik tenaga air laut (PLTAL) Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

“Terkait pembangkit daya listrik ini, sebut Andre,  untuk tahap pertama dapat menghasilkan daya antara 20-30 mega watt (MW).  Dalam perhitungan secara matematis harga jual listrik dengan kisaran angka berapa itu menjadi kajian internal PT Tidar Bridge dengan PT. WIKA,”tegas Andre.

Dia menambahkan, pelaksanaan pembangunan jembatan Pancasila Palmerah sepanjang 800 meter ini dengan biaya sekitar Rp 3 trilun lebih. Pembiayaan yang ada bukan menggunakan dana APBD. Tetapi dibiayai dari dana investasi asing sebagai bentuk kerjasama business to business (B to B) antara Indonesia dengan Belanda. Dan peran masing-masing serta perhitungan secara matematisnya sudah dilakukan PT Tidal Brigde dan PT WIKA, tuturnya. +++ cnc1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *