AMBURADUL Proyek KAT Dinas Sosial NTT di Kabupaten Kupang

Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun anggaran (TA) 2018 mengalami nasib naas. Sejumlah proyek tertunda pekerjaan dari tahun sebelumnya. Bahkan hampir pasti gagal proyek pembangunan rumah Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kabupaten Kupang. Apakah juga karena ulah ULP di Biro PBJ?

Kupang, citra-news.com – LAGI – LAGI Unit Layanan Pengadaan  (ULP) di Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Sekretariat Daerah Provinsi NTT (Setda NTT), mendapat sorotan dari banyak pihak. Diantaranya dari Dinas Sosial Provinsi NTT, mensinyalir gagalnya pekerjaan proyek pembangunan  rumah KAT di Desa Letkole Kecamatan Amfoang Barat Daya Kabupaten Kupang karena ulah oknum-oknum pengurus Pokja ULP di Biro PBJ NTT.

Menanggapi tudingan itu Kepala ULP BPBJ Setda  NTT, Heronimus Hayantowati, S.Fil  kepada citra-news.com di ruang kerjanya Selasa, 2 Oktober 2018 menyatakan, pihak ULP hanya menelisik keabsahan dokumen penawaran yang diajukan rekanan.

“Melalui mekanisme lelang (tender) terbuka kita lakukan. Soal kalah menang dalam mekanisme tender, dibuktikan dengan dokumen yang diajukan rekanan. Secara kelembagaan kita sudah lakukan sesuai dengan aturan dan mekanisme perundang-undangan yang berlaku. Kalau menyangkut perilaku teman-teman Pokja di luar aturan, itu perbuatan oknum dan bukan atas nama lembaga,” tegasnya.

Haris, demikian ia akrab disapa, membenarkan kalau pihak ULP BPBJ Setda NTT juga sudah menerima Surat Tembusan soal PHK CV Bina Karyda oleh PPK Dinas Sosial NTT. CV Bina Karya di-PHK terkait pekerjaan proyek KAT tahun anggaran 2018 di Desa Letkole Kabupaten Kupang.

Berdasarkan surat tembusan ini, lanjut dia, pihak ULP akan melakukan review. Apakah nanti proyek itu dilelang ulang karena tidak ada pemenang kedua. “Iya agar uang negara negara yang sudah terpakai untuk beberapa item pekerjaan itu tidak mubasir atau sia-sia pemanfaatannya, bisa jadi setelah mendapat keputusan dari atasan dalam hal ini Gubernur NTT melalui Sekda, maka pihak ULP akan melakukan tender ulang,”kata Boby menambahkan.

Ditemui secara terpisah, Stanislaus Jawang, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial NTT menyatakan, CV Bina Karyda sudah di-PHK-kan oleh pihak dinas. Karena tidak melaksanakan pekerjaan sesuai aturan.

“Tanya saja di ULP sana kenapa kasih menang itu CV Bina Karyda. Kami (Dinas Sosial NTT) hanya terima hasil pelelangan yang ditetapkan dari ULP,”ujar Stanis singkat.

Sementara informasi dari narasumber yang meminta namanya tidak dipublikasi mengatakan, CV Bina Karyda selaku Pelaksana Pekerjaan Pemberian Bantuan Stimulan Permukiman Sosial bagi Warga Komunitas Adat Terpencil (KAT) Desa Letkole Kecamatan Amfoang Barat Daya Kabupaten Kupang.

CV Bina Karyda di-PHK oleh PPK Program Pemberdayaan Kegiatan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Dinas Sosial Provinsi NTT Tahun Anggaran 2018, karena Kuasa Direktur LL tidak mampu melaksanakan kewajibannya sejak tanggal 18 Mei 2018.

Padahal uang muka 30 persen atau sekitar Rp 400 juta lebih dari nilai kontrak sebesar Rp 1.366.820.000 sudah diterima. Dan terendus kabar uang muka yang diterima LL itu bukannya digunakan untuk belanja material. Namun sebagian uang itu dibagi-bagi kepada pengurus Pokja (Kelompok Kerja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) di Biro Pengadaan Barang/Jasa (BPBJ) Setda Provinsi NTT. Para pengurus Pokja ULP di Biro PBJ NTT itu diantaranya DS, YJB, DSAT ditengarai menerima uang sebesar Rp 100 juta dari LL Kuasa Direktur CV Bina Karyda  karena konon telah memenangkannya saat proses tender di ULP.

Terhadap pekerjaan di lapangan, jelas dia, Kuasa Direktur CV Bina Karya, LL meminjam uang dari Sub Kontraktor untuk belanja material. Progress pekerjaan baru mencapai sekitar 15-an persen. Ada beberapa unit bangunan sudah mulai pekerjaan dinding. Namun banyak unit lainnya masih penggalian untuk pemasangan pondasi, bahkan sedang pembersihan lokasi oleh masyarakat desa. +++ tim cnc

Gambar : Salah satu unit bangunan rumah KAT oleh CV Bina Karyda di Desa Letkole Kecamatan Amfoang Barat Daya Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Foto : doc.CNC/dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *