Lagi-lagi ADELINO, Cs Diminta JUJUR dan TIDAK Berbelit-belit

Gedung NTT FAIR di bilangan Bimoku Kota Kupang, Timor NTT tengah mangkrak lantaran dililit kasus korupsi. Doc. CNC/marthen radja-Citra News.

Sidang kasus korupsi pembangunan gedung NTT Fair menyeret banyak pejabat dan atau mantan pejabat di lingkungan Setda Provinsi NTT. Setelah kasus tersebut di-P21-kan majelis hakim di Pengadilan Tipikor Kupang pun menggelar sidang secara marathon.

Citra-News.Com, KUPANG – ADELINO da Cruz Soares, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (Kabid GTK) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinas P dan K Prov. NTT) dibuat tidak nyaman dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai Pejabat Eselon III. Pasalnya, mantan Ketua ULP (Unit Layanan Pengadaan) pada Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Provinsi NTT itu tersandung kasus pembangunan gedung NTT Fair di bilangan Bimoku Kelurahan Lasiana Kota Kupang, Timor NTT.

Adalah fakta pada persidangan Senin 14 Oktober 2019, Adelino dan tiga rekannya yang lain masing-masing JANS E. Sibu, MARIA Fatima Lodo, dan T.L Floriadiputra Langoday, mereka dimintai keterangannya oleh Pengadilan Tipikor Kupang. Dan keempat ASN (aparatur sipil negara) selaku Saksi dalam kasus NTT Fair ini berasal  dari Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Setda Provinsi NTT.

Tidak berbeda dengan penegasan hakim dalam sidang sebelumnya, Ketua Majelis Hakim DJU Johnson Mira Mangngi, SH, MH pada persidangan Senin 21 Oktober 2019 sekali lagi mengingatkan agar Adelino bersama tiga saksi harus jujur dan tidak boleh berbelit-belit.

Dikatakan Ketua Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang ini, biasanya kalau bercerita diluar persidangan meeka (saksi, red) bebas bercerita dan merasa tidak ada beban. Namun kalau sudah masuk dan duduk di ruang persidangan maka mereka blank (kosong) alias tidak ingat apa-apa lagi apa yang sebenarnya mereka mau ungkapkan.

“Untuk itu maka saya selalu mengingatkan, jangan sekali-sekali memberikan keterangan yang berbeda atau mencabut keterangan. Kecuali membri keterangan berbeda karena alasan tekanan atau hal lain. Jadi jangan seenaknya merubah-rubah dan mencabut keterangan,”tegasnya.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, pihak Kejaksaan Tinggi NTT telah berhasil menahan enam orang tersangka (6 TSK) yang diduga terlibat langsungdalam dugaan korupsi pembangunan Gedung NTT Fair.

Mereka adalah YULIA Afra selaku KPA  (mantan Kepala Dinas Perumahan dan Tata Ruang Permukiman Prov.NTT); DONNA Febiola Toh, selaku PPK pada Dinas Perumahan dan Tata Ruang Permukiman Prov.NTT; LINDA Liudinato (Kuasa Direktur PT. Cipta Eka Puri); HADMEN Puri (Direktur PT Cipta Eka Puri); dan tiga TSK dari Konsulta Pengawas.

Selain menahan para TSK, Kejati NTT juga pernah memanggil Drs. FRANS Lebu Raya (mantan Gubernur NTT) dan Ir. BENEDIKTUS Polo Maing (Sekda NTT) sebagai SAKSI. Konon, persidangan yang digelar dengan materi yang berkutat soal keterangan saksi ini, guna menelisik lebih dalam siapa ‘pewayang’ atau dalang sesungguhnya kasus ini.

ADELINO Jadi Saksi Korupsi Lantas TUPOKSI Amburadul?

Terhadap fakta tersebut, Kepala Dinas P dan K Provinsi NTT, Drs. BENYAMIN Lola, M.Pd kepada citra-news.com menyatakan, selaku kepala bidang GTK dia (Adelino da Cruz Soares, red) harus bisa me-manage  (mengatur) waktu sedemikian rupa agar tidak mengganggu Tupoksinya.

“Sebenarnya saya tidak punya kapasitas untuk mengomentari hal itu. Akan tetapi karena dia (Adelino da Cruz Soares, red) adalah salah pejabat di dinas dan memang kehadirannya di kasus NTT Fair ini sangat dibutuhkan sebagai saksi. Sebagai warga negara yang taat hukum, saya kira dia wajib mentaatinya,”ungkap Benyamin saat ditemui awak media ini di SMKN 5 Kupang, Senin 21 Oktober 2019.

Kika: Kadis BENYAMIN Lola, Kasek SMKN 5 Kupang, Dra. SAFIRAH C. Abineno, Kabid Dikmen LAZARUS Holeng.

Terhadap tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) selaku Kabid GTK, lanjut Benyamin, tentunya dia tidak boleh abaikan. Dia punya strategi-strategi akan pekerjan-pekerjaan yang ada di bidang GTK itu. Karena mengurus pendidikan adalah mengurus banyak orang. Dokumen administrasi akan kebutuhan para guru dan tenaga kependidikan untuk satu NTT ini mestinya tuntas.

“Memang selama ini pekerjaan-pekerjaan bidang GTK berjalan baik. Karena memang disana beliau (Adelino da Cruz Soares, red) bukan sendiri. Akan tetapi beliau dibantu oleh beberapa kepala bagian, ada kepala seksi dan dibantu sejumlah staf dalam melancarkan pekerjaan-pekerjaan itu,”jelas Benyamin.

Adelino sebagai warga negara yang taat hukum, tambah mantan Penjabat Bupati Alor ini, dia beliau harus memberikan keterangan sebagai saksi yang benar dan bertanggungjawab. Sehingga bisa mempercepat proses persidangan kasus NTT Fair ini. Karena bagaimanapun dihadapan belai masih ada banyak tugas yang harus diselesaikan.

“Iya memang ada sedikit terganggu kalau sudah tersandung kasus. menjadi tidak nyaman dalam menjalankan tugas-tugas-tugas pokoknya sebagai pelayan publik. Apalagi jadi pejabat dalam saksi hukum, beliau harus  bisa membagi waktu untuk mendistribusikan Tupoksinya itu kepada stafnya yang ada,”pungkasnya. ++++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *