BAYU Sebut LINDA Mengaku SAUDARA dengan FLR

Suasana Sidang di Pengadilan Tipikor Kupang, Senin 14 Oktober 2019 JPU menghadirkan 7 orang Saksi dari Jawa dan Pokja ULP NTT. Doc.CNC/marhaen express.com

Dugaan korupsi proyek pembangunan gedung NTT Fair disinyalir beraroma affair. Lebih jelasnya nanti fakta sidang di pengadilan akan bisa menguaknya.

Citr-News.Com, KUPANG – NAMA MANTAN  Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs. FRANS Lebu Raya (FLR), disebut-sebut sebagai orang yang turut berperan dalam proses tender pekerjaan pembangunan gedung NTT Fair.

Gubernur NTT dua periode itu tidak saja disebut namanya namun juga beberapa waktu lalu pernah dipanggil Kejaksaan Tinggi NTT sebagai Saksi. Termasuk Sekda NTT, Ir, BENEDIKTUS Polo Maing juga sebagai Saksi di panggilan sidang korupsi proyek pembangunan gedung NTT Fair.  Dalam mana sejak awal bergulir telah ‘mengkandangkan’ (menahan) para tersangka (TSK) di Rutan (Rumah Tahanan) Penfui Kupang. Para tersangka tersebut diantaranya; YULIA Afra alias YA mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinas Perakim) Provinsi NTT selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan DONNA Febriana Toh alias DT selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) juga dari Dinas Perakim NTT. Sedangkan dari pihak kontraktor masing-masing Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri, LINDA Liudianto alias LL; Direktur Utama (Dirut) PT Cipta Eka Puri, HADMEN Puri alias HP; serta yang lainnya Konsultan Pengawas.

Gedung NTT Fair dan Drs. Frans Lebu Raya. Doc.CNC/marthen radja-Citra News

Sidang korupsi proyek pembangunan NTT Fair yang dihelat Pengadilan Tipikor Kupang, Senin 14 Oktober 2019, dipimpin oleh Majelis Hakim DJU Johnson Mira Mangi, SH, MH. Dari Hakim aggota masing-masing ARI Prabowo dan ALI Muhtarom. Dari Jaksa Penutut Umum (JPU) adalah HERRY Franklin, SH, MH; EMERENSIANA F. Jehamat, SH; dan HENDRIK Tip, SH.

Sementara dari Terdakwa Hadmen Puri alias HP didampingi oleh Kuasa Hukumnya, SAMUEL Haning, SH, MH dan MARTHEN Dillak, SH, MH.

Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 7 (tujuh) orang saksi sekaligus. Guna didengarkan kesaksian mereka tentang pekerjaan proyek oleh PT Cipta Eka Puri di bilangan Bimoku Kota Kupang, Timor NTT. Mereka adalah 3 (tiga) orang saksi berasal dari Jawa Barat masing-masing, ADE Iskandar, Ir. BAYU Muhamad Yunus, dan SYAMSUL Rizal.

Ade, Bayu, dan Syamsul diambil Sumpah di Pengadilan Tipikor Kupang, Senin 14 Oktober 2019. Doc. CNC/marhaen express.com

Sedangkan 4 (empat) orang saksi lainnya masing-masing, ADELINO da Cruz Soares, JANS E. Sibu, MARIA Fatima Lodo, dan T.L Floriadiputra Langoday. Mereka berempat saksi ini berasal  dari Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pokja ULP) Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Setda Provinsi NTT.

Yang menggelitik dalam sidang ini adalah pengakuan para saksi dari Jawa Barat. Ketiganya menyatakan, saat itu LINDA Liudianto (LL) sempat menyebut bahwa ia (Linda Liudianto, red) masih memiliki hubungan saudara dengan Gubenur NTT Drs. Frans Lebu Raya (FLR).

“Jadi penawaran jangan sampai gagal. Karena tidak enak dengan beliau (Frans Lebu Raya,red),”ungkap ketiga saksi mengutip pernyataan Linda Liudianto saat awal proses tender.

Ir.Bayu Muhamad Yunus dalam kesaksiannya menjelaskan bahwa Linda Liudianto tidak memiliki tidak memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU). Sehingga Linda Liudianto tidak bisa mengerjakan proyek pembangunan NTT Fair. Maka mereka menghubungkan dengan Direktur PT. Cipta Eka Puri, HADMEN Puri (HP) dan membuat Surat Kuasa Direktur.

Untuk itu, tambah Bayu, mereka (ketiga saksi dari Jawa Barat, red) membuat semua dokumen penawaran, baik perencanaan, RAB, serta dokumen lainnya.

Sementara sidang tengah alot berjalan terpaksa dihentikan karena ada Surat dari RUTAN (Rumah Tahanan) yang diberikan oleh Kuasa Hukum Hadmen Puri kepada Majelis Hakim. Agar Terdakwa Hadmen Puri segera melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter, karena terdakwa Hadmen Puri dalam keadaan sakit. Sehingga sidang ditunda dan diagendakan tanggal 21 Oktober 2019.

Apresiasi Pembuktian Kooperatif Hadmen Puri

Usai sidang ditutup Kuasa Hukum Hadmen Puri, Samuel Haning diamini Marthen Dillak kepada awak media menyatakan, walaupun kliennya (Hadmen Puri) sejak awal persidangan dalam keadaan sakit. Namun ingin membuktikan kepada public kalau kliennya bersikap kooperatif memenuhi panggilan sidang.

foto: Samuel Haning, SH, MH dan Gedung NTT Fair Mangkrak. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

“Sebenarnya sejak awal persidangan kami ingin memberikan surat tersebut kepada Majelis Hakim. Namun permintaan pak Hadmen Puri agar sidang hari ini tetap dilanjutkan sebagai bentuk apresisasi pembuktian kooperatifnya. Tapi dalam pertengahan persidangan ternyata pak Hadmen tidak bisa menahan rasa sakitnya. Maka Surat tersebut terpaksa diberikan kepada Majelis Hakim,”jelas Samuel Haning seperti dikutip mahensa express.com

Ditegaskan Sam Haning, pihaknya mengapresiasi niat baik Hadmen Puri. Karena beliau (Hadmen Puri, red) ingin benar-benar menjadi orang yang membuktikan suatu kebenaran yang hakiki dan ingin mempercepat proses persidangan. Dan beliau ingin membuktikan bahwa dia bersalah atau tidak.

“Ini akan ramai karena fakta persidangan pak Hadmen Puri tidak berhubungan dengan proyek tersebut,”ungkap Sam Haning. +++ citra-news.com/mahensa express.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *