“Saya meragukan apakah menu MBG bisa disuplay dari dalam desa? Apakah setiap bulan menu MBG hanya telur atau daging ayam saja ataukah variatif? Protein hewani saja tidak cukup terpenuhi lantaran belum ada petani yang fokus ternak ayam. Kan karakter petani kita di NTT ini punya usaha rangkap. Sangat jarang bahkan tidak ada petani NTT yang fokus pada satu usaha saja”, tegas dia.
Oleh karena itu, lanjut dia, kalau mau program sukses maka perlu kesiapan banyak aspek. Sumber daya petani, sumber daya pangan lokal, serta daya dukung sarana prasarana sehingga bisa tercipta satu siklus ekonomi yang berjalan simultan.
“Jadi butuh kesiapan tahap demi tahap. Tapi program MBG inikan awal jadi Presiden pak Prabowo langsung eksekusi. Inikan juga menbingungkan bagi kepala daerah, dari gubernur hingga bupati/walikota,” tuturnya.
Sebagai wakil rakyat Fredy menegasikan, program MBG untuk tahap-tahap awal layaknya dilaksanakan di ibu kota kabupaten atau ibukota kecamatan. Dengan terlebih dahulu mengidentifikasi semua sekolah yang ada.
Berapa jumlah sekolah yang letaknya mudah dijangkau dan berapa jumlah murid yang dilayani. Tujuannya agar mobilisasi MBG yang ada tepat waktu dan tepat sasaran.
“Hemat saya program MBG ini test case atau prioritas untuk sekolah yang ada dalam kota. Nanti tahap selanjutnya meluas ke ibu kota kecamatan. Jika perlu 50 persen dari jumlah sekolah yng ada di kota kabupaten. Seiring dengan perbaikan infrastruktur jalan yang memadai untuk permudah mobilisasi MBG ke sekolah-sekolah sasaran”, kata Fredy.
Lagi-lagi menyangkut suplay chain pangan lokal untuk MBG di NTT, butuh peningkatan jumlah dan mutu. Harapan permerintah NTT bahwa dari program OVOP bisa terpenuhinya atau jadi suplay chain program MBG.












