“Hampir semua di ibukota kabupaten/ terbangun. Hanya ada beberapa saja di pusat kecamatan. Kalau di Manggarai Raya sudah ada di pusat-pusat ibukota kabupaten. Seperti di Labuan Bajo Manggarai Barat, Ruteng Manggarai, dan di Borong Manggarai Timur”, tandasya.
Oleh karena itu untuk mencegah meluasnya resistensi keracunan MBG jelas Fredy, pemerintah harus mengevaluasi pelasaksanan yang sudah berjalan dan tidak usah membuka Dapur MBG yang baru lagi. Ataukah memperbanyak jumlah Dapur MBG tapi kurangi atau memperkecil jumlah quota layanan. Dari 3000 siswa berkurang menjadi ke 1000 siswa per satu Dapur MBG.
“Kalau yang sedang berjalan saat ini satu dapur melayani 3000 siswa. Nah kalau harus layani 3000 siswa berarti dapur itu harus mulai masak lebih awal, sekira jam 7/8 malam. Sehingga untuk esok harinya sekitar jam lima pagi didistribusikan ke sekolah sesuai quota”, imbuh dia.
Itupun, lanjut Fredy, belum bisa dijamin makanan itu basi atau tidak. Karena soal topografi wilayah dan keterjangkuan mobilisasi dari pusat dapur MBG ke sekolah-sekolah sasaran. Fakta miris terjadi di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT, ada banyak siswa yang keracunan MBG. Apalagi sekolah sasaran MBG yang letaknya di pedalaman dengan kondisi jalan yang sedang tidak baik-baik saja.
Tawaran Solusi












