Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

MBG Menuai MASALAH KERACUNAN, Fredy : STOPKAN Atau….

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

ADRD NTT Fraksi Nasdem dari Dapil 4 Manggarai Raya ini menawarkan langkah solutif yang perlu dilakukan pemerintah. Yaitu pertama, stopkan saja layanan MBG bagi sekolah-sekolah yang belum “ditender” itu, sambil mengevaluasi hal-hal yang sudah berjalan. Kedua, Harus menambah atau perbanyak jumlah dapur MBG dan mengurangi jumlah (quota) layanan. “Iya, efektifnya satu dapur melayani maksimum 1000 siswa. Layanan MBG ini saya analogikan kalau kita bikin pesta dan melayani 3000 undangan. Bisa dibayangkan dari segi higienitas bagaimana”, ungkapnya.

Solusi yang ketiga, dari guota yang sudah ada sebaiknya digantikan dalam bentuk uang dan dikirim ke masing-masing orangtua siswa. Kemudian menunya ditentukan oleh guru-guru sekolah sasaran MBG. Jika dihitung satu porsi MBG per anak/siswa sebesar Rp15.000 dikalikan dalam satu keluarga ada 3 anak misalnya, maka uang yang diterima orang tua siswa Rp45.000. Dari uang yang ada ini keluarga bersangkutan bisa belanja bahan makanan sesuai menu yang ditentukan sekolah.

“Hemat saya kalau MBG itu diganti dengan uang cash saja. Dan itu jauh lebih praktis, efisien, dan efektif. Karena orang tua yang masak sendiri. Otangtua lebih memahami pola makan dan sudah tahu selera anak”, ujarnya.

Baca Juga :  Pemprov NTT Gandeng UNDANA Menatakelola TNK

Menjawab soal NTT wilayah kepulauan, Fredy mengatakan, di Kota Kupang dengan jangkauan layanan MBG dalam hitungan belasan menit sudah sampai ke sasaran saja ada banyak siswa yang keracunan. Apalagi layanan MBG hingga ke desa pedalaman. Dengan kondisi NTT yang berpulau-pulau serta letak sekolah sasaran dengan topografinya yang sulit dijangkau, dapat menjadi penyebab makanan basi.

Baca Juga :  NONA SARI BAHENOL Memburu Cinta Rupiah di PANGAN LOKAL (Seri 2)

“Intinya dengan semakin sering terjadinya masalah keracunan makanan maka sebaiknya stopkan saja pelayanan MBG. Dan lakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan yang sedang berjalan Ataukah layanan dikurangi dan perbanyak dapur MBG. Jangan satu dapur MBG melayani 3000 siswa tapi satu dapur melayani maksimal 1000 siswa. Solusi lainnya digantikan saja dengan uang seharga Rp15.000 per porsi per siswa. Sehingga memberikan edukasi bagi orangtua bagaimana cara mengolah makanan yang sehat dan betgizi”, pungkasnya.  +++ marthen/CNC