Dia bersama Kementerian Kesehatan RI saat itu memperjuangkan pembangunan rumah sakit tersebut agar masyarakat Pulau Solor tak lagi harus menyeberang jauh hanya untuk mendapat pelayanan medis.
Perjalanan panjang itu berbuah manis ketika pada 31 Juli 2024, dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan. Dari batu pertama ini melelehkan sandungan Rumah Harapan. Kini, RSP Solor berdiri megah dan siap melayani masyarakat dengan fasilitas dan tenaga medis yang memadai.
Dalam sambutannya, Gubernur Melky menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat sistem layanan kesehatan terpadu, berjejaring, dan berkeadilan di seluruh wilayah provinsi.
“Keberadaan RSP Solor adalah Simbol Kehadiran Negara dan menjadi jembatan antara layanan dasar di puskesmas dengan layanan rujukan di rumah sakit kabupaten atau provinsi. Kami sedang membangun sistem terpadu agar masyarakat di semua pulau memperoleh akses cepat. Baik melalui transportasi laut, telemedisin, maupun sistem rujukan digital,” jelas Melky.

Rumah Sakit Pratama Solor memiliki kapasitas awal 40 tempat tidur. Fasilitas ini menjadi simbol nyata kehadiran negara dalam menjamin akses pelayanan kesehatan yang merata hingga ke wilayah kepulauan dan terluar NTT. RSP Solor bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol hadirnya negara di pulau-pulau terluar. Pelayanan kesehatan sejati itu menjangkau, bukan menunggu. Pelayanan yang berkeadilan untuk semua pulau.
Lebih lanjut, Gubernur Melky mengatakan visi besar NTT untuk memastikan bahwa setiap warga dari Solor hingga Rote, Sabu, Adonara, Lembata, Alor, Flores, Sumba, dan Timor memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan bermartabat.













