SERENA Corsgrova Francis – Wakil Wali Kota Kupang. Doc. CNC/prokopim setda kotakpg
Hari itu Serena hadir sebagai seorang perempuan yang memahami arti ketangguhan, sekaligus mewakili wajah baru Kupang Smart City-Kota yang membangun………
Citra News.Com, KUPANG – DI SEBUAH ruang pelatihan sederhana di Hotel Sahid T-More Kupang, Selasa (18/11), suasana haru bercampur harapan menyelimuti puluhan perempuan duduk berjejer dengan wajah yang mungkin pernah basah oleh luka masa lalu, luka yang tak terlihat, namun terasa dalam. Mereka adalah penyintas kekerasan, sederet perempuan yang datang bukan sekadar untuk mengikuti pelatihan, tetapi untuk memulai kembali hidup mereka.
Di hadapan mereka, berdiri sosok yang konsisten mendorong transformasi sosial di Kota Kupang. Dialah Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc. Hari itu, Serena bukan sekadar membuka kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Perempuan Penyintas Kekerasan.
Ia hadir sebagai seorang perempuan yang memahami arti ketangguhan, dan ingin menyalakannya kembali hati setiap peserta yang hadir. Sekaligus mewakili wajah baru Kupang Smart City-Kota yang membangun manusia, menyediakan akses yang mudah, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi keluarga.
“Masa lalu boleh penuh luka, tetapi masa depan selalu penuh harapan,” ucap Serena diiringi tatapan tulus dan suara lembut namun mantap dari Wakil Wali Kota (Wawalkot) Kupang ini seperti membuka pintu baru bagi puluhan perempuan yang pernah merasa terhalang oleh ketidakadilan dan ketergantungan ekonomi.
Kalimat yang sederhana, tetapi bagi banyak perempuan di ruangan itu, terasa seperti undangan untuk kembali percaya pada diri sendiri. Dalam suaranya, terdengar harapan. Dalam matanya, terlihat keyakinan bahwa perempuan penyintas kekerasan bukan korban. Mereka adalah calon pemimpin keluarga yang kuat.
Wawalkot Serena menegaskan bahwa pelatihan ini bukan kegiatan seremonial. Ini adalah ruang pemulihan. Ruang untuk belajar kembali mencintai kehidupan. Ruang untuk menguatkan diri, setelah sebelumnya menghadapi ketidakadilan, kekerasan, dan kehilangan kemandirian.

“Banyak perempuan terjebak dalam ketergantungan ekonomi kepada pihak yang justru menjadi sumber kekerasan. Namun hari ini, saya melihat wajah-wajah perempuan yang tidak menyerah, yang memilih untuk bangkit,” ujarnya.
SABOAK dan INA KASIH Membalut Sistem Program Kupang Smart City











