Menurutnya, NTT Mart menjadi ruang strategis untuk meningkatkan nilai jual hasil olahan kekayaan alam daerah, mulai dari sektor peternakan, pertanian, perikanan, hingga sektor lainnya. Produk-produk tersebut kini memiliki rumah bersama untuk dipasarkan secara layak dan berkelanjutan.
Namun di balik peluang besar itu, Gubernur juga mengingatkan tantangan yang kerap dihadapi pelaku UMKM, mulai dari permodalan, pendampingan, literasi keuangan, hingga akses pasar.
Ia menegaskan, tantangan tersebut hanya bisa diatasi melalui sinergi antara pemerintah, perbankan, dan para pelaku usaha itu sendiri.
“Terkait modal, kita dorong akses KUR dari perbankan dengan fasilitasi pemerintah. Pendampingan dan pelatihan juga penting agar UMKM benar-benar siap dan mampu berkembang,” jelasnya.
Literasi keuangan pun menjadi penekanan khusus. Gubernur mengingatkan agar dana usaha dimanfaatkan secara tepat untuk pengembangan usaha, bukan untuk keperluan konsumtif.
“Modal usaha harus dipakai untuk memperkuat usaha, bukan habis untuk pesta atau hal-hal lain yang tidak produktif,” tegasnya.
Sebagai solusi pemasaran, NTT Mart diposisikan sebagai pusat penjualan produk UMKM. Ia bahkan mendorong seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di TTU untuk berbelanja di NTT Mart sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekonomi lokal.
“Bayangkan kalau ada sekitar 6.000 ASN di TTU, masing-masing belanja Rp100 ribu per bulan. Dalam sebulan bisa terjadi transaksi Rp600 juta. Ini kekuatan ekonomi yang luar biasa,” ungkapnya.












