Paul yang juga Pemilik Kampus UCB menyebut, Data Konsil Kesehatan Indonesia menunjukkan rasio dokter masih di bawah standar WHO. Ini menjadi pengingat bahwa persoalan kekurangan tenaga medis bukan hanya masalah daerah, tetapi juga tantangan nasional.
Dalam kerangka tersebut, kata Paul, Fakultas Kedokteran UCB dapat dipandang sebagai bagian dari solusi struktural untuk memperbaiki rasio dokter dan penduduk. Apalagi, dukungan RSUD S.K. Lerik sebagai rumah sakit pendidikan memberikan fondasi penting bagi penguatan pembelajaran klinik dan praktik lapangan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar pendidikan kedokteran tidak terputus dari realitas pelayanan kesehatan. Melalui sinergi ini, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga pengalaman lapangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat NTT.
Secara lebih luas, peluncuran Fakultas Kedokteran UCB mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan daerah, dari yang berorientasi pada infrastruktur fisik menuju investasi manusia.
Pendidikan tenaga kesehatan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Tinggalkan Pola Lama
Ajakan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo untuk berani melakukan perubahan dan inovasi, menjadi pengingat bagi para pihak bahwa peningkatan kualitas kesehatan tidak dapat dicapai dengan pola lama. Kehadiran fakultas kedokteran ini menjadi salah satu bentuk “cara baru” dalam membangun sektor kesehatan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, launching Fakultas Kedokteran UCB tidak hanya menandai bertambahnya institusi pendidikan di Kota Kupang, tetapi juga lentera (cahaya, red) yang merepresentasikan komitmen bersama untuk membangun masa depan NTT melalui penguatan SDM kesehatan.
Jika dikelola secara konsisten dan kolaboratif, langkah ini berpotensi menjadi fondasi penting bagi terwujudnya layanan kesehatan yang lebih merata, berkualitas, dan berkeadilan di Wilayah Timur Indonesia. +++ marthen/*












