Melky tidak menutup mata terhadap persoalan klasik di NTT: melimpahnya lulusan perawat yang tidak sebanding dengan daya serap lapangan kerja lokal. Kabupaten dan provinsi, menurutnya, sudah berada pada titik jenuh.
Namun, keterbatasan itu justru ia tafsirkan sebagai peluang. Dengan kebutuhan jutaan perawat di dunia, lulusan STIKES St. Elisabeth dinilai memiliki “modal sosial” berupa ketangguhan dan disiplin spiritual.
Ia mendorong mahasiswa untuk tidak terpaku pada status aparatur sipil negara. Penguasaan bahasa asing, sertifikasi internasional, dan keberanian merantau dipandang sebagai kunci menembus pasar global, mulai dari Jepang hingga Eropa dan Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, Melky memposisikan pendidikan kesehatan di NTT sebagai bagian dari diplomasi tenaga kerja, bukan sekadar pencetak pekerja lokal.
Inspirasi dari Perjalanan Pribadi
Untuk memperkuat pesannya, Melky membagikan kisah hidupnya yang pernah meninggalkan status PNS demi pengabdian yang lebih luas. Pengalaman itu menjadi simbol pentingnya keberanian mengambil risiko.
Menurutnya, keberhasilan sering kali lahir dari keputusan keluar dari zona nyaman. Ia menilai para lulusan Santa Elisabeth telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di luar daerah bahkan luar negeri, sejak masih bernama SPK Lela.
“Bermimpilah tinggi dan buatlah terobosan,” pesannya, seraya menegaskan kebanggaannya sebagai Gubernur NTT.
Kampus sebagai Motor Transformasi
Sementara itu, Ketua Yayasan, Maria Kornelia Tinggi Kuwa, memaknai kehadiran Gubernur Melky sebagai bukti perhatian nyata pemerintah terhadap pendidikan swasta.
Di bawah naungan Yayasan Santo Lukas Keuskupan Maumere, STIKES St. Elisabeth terus bertransformasi dari SPK, Akper, hingga menjadi sekolah tinggi pada 2024. Saat ini, kampus tersebut menampung 643 mahasiswa dari berbagai wilayah di NTT.












