“UMKM adalah denyut nadi ekonomi di Kota Kupang. Kita ini kota jasa dan perdagangan. Kita tidak punya banyak hasil bumi, tetapi UMKM menjadi tumpuan ekonomi kita,” katanya.
Karena itu, ia membuka peluang agar festival serupa dapat digelar lebih sering, tidak hanya pada momen perayaan tertentu.
“Kalau tahun depan mau dibuat lagi, boleh juga dua kali setahun. Tidak harus saat Imlek. Bisa festival makanan saat Natal atau momentum lainnya,” ujarnya.
Lampion yang Menyatukan Keberagaman
Selain soal ekonomi, festival ini juga membawa pesan yang lebih dalam yaitu Kebersamaan dalam Keberagaman.
Pajangan tema “Harmoni dalam Keberagaman” terasa nyata di sepanjang area festival. Pengunjung dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan etnis berbaur menikmati pertunjukan seni, kuliner, dan suasana malam yang penuh warna.
Bagi Christian, itulah wajah sejati Kota Kupang. “Kota Kupang adalah kanvasnya, sementara kita semua adalah warna-warninya. Jika disusun dengan baik, maka akan menjadi lukisan indah bernama Kota Kupang yang maju,” tuturnya.
Pesan serupa juga disampaikan Johny Asadoma, Wakil Gubernur NTT yang turut hadir dalam acara penutupan. Ia mengingatkan bahwa keberagaman yang dimiliki masyarakat NTT bukanlah perbedaan yang memisahkan, tetapi kekuatan yang justru mempererat persaudaraan.
Menurutnya, kegiatan seperti festival budaya dan kuliner mampu membuka ruang publik yang inklusif sekaligus menggerakkan perekonomian.
“Sektor UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap perekonomian daerah. Festival seperti ini penting untuk meningkatkan konsumsi masyarakat dan memperluas peredaran uang di daerah,” ujarnya.












