Transaksi Hampir Rp1 Miliar
Dari sisi ekonomi, dampak festival ini terlihat cukup signifikan. Ketua Panitia Kupang Lampion Street Market, Andree Hartanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mendapat respons luar biasa dari pelaku usaha maupun masyarakat.
Seluruh slot UMKM terisi penuh, bahkan panitia mencatat adanya daftar tunggu dari pelaku usaha yang ingin ikut berpartisipasi.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun bersama Bank Indonesia, transaksi selama dua hari pertama sudah mencapai hampir Rp500 juta dengan ribuan transaksi. Hingga hari penutupan, total perputaran uang diperkirakan mendekati Rp1 miliar.
“Ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi sekaligus potensi besar UMKM di Kota Kupang,” kata Andree.
Cahaya Lampion Berbekas Harapan
Saat acara penutupan usai, lampion-lampion masih menggantung menerangi jalan. Beberapa pengunjung masih berfoto, sementara pedagang perlahan mulai merapikan lapak mereka.
Namun bagi banyak orang, tiga hari festival itu meninggalkan kesan yang lebih dari sekadar perayaan budaya. Ia menjadi bukti bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh dari ruang publik yang inklusif, dari kolaborasi berbagai komunitas, dan dari semangat keberagaman yang dirawat bersama.
Di bawah cahaya lampion yang perlahan redup malam itu, Kupang seakan menegaskan satu hal: Kota ini tidak hanya hidup dari aktivitas ekonominya, tetapi juga dari harmoni masyarakat yang menjaganya. +++ marthen/*












