Dalam konteks itu, UMKM lokal menjadi bagian penting dari rantai ekonomi wisata yang sedang dibangun pemerintah. Produk tenun, kuliner, dan ekonomi kreatif masyarakat Alor harus memperoleh pasar yang layak.
Pemerintah provinsi kini mendorong konsep hilirisasi produk daerah dan penguatan pemasaran melalui NTT Mart agar produk masyarakat tidak berhenti di pasar kecil lokal, tetapi mampu menembus pasar regional.
Saat meninjau stan UMKM di Pantai Sebanjar, Gubernur Melky sempat membeli kain tenun khas Alor serta produk makanan dan minuman lokal.
Langkah itu bukan sekadar simbolis, tetapi memperlihatkan pesan bahwa wajah pariwisata Alor tidak hanya berada di lautnya, melainkan juga pada produk dan identitas budaya masyarakatnya.
Wisata Bahari Kekuatan
Sementara itu, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menegaskan wisata bahari merupakan kekuatan utama daerah yang harus dikelola serius.
Wabub Rocky mengakui kalau dukungan dari pemerintah provinsi mulai terlihat, terutama melalui pembangunan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata.
“Bagi Alor, pembangunan jalan bukan hanya soal akses transportasi, tetapi jalur pembuka ekonomi baru bagi kawasan pesisir.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, pemerintah provinsi memastikan Alor tetap menjadi salah satu prioritas pembangunan”, ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Alor kini mulai diposisikan sebagai simpul penting dalam peta pariwisata NTT setelah Labuan Bajo dan Sumba.
Tetapi tantangan terbesar tetap sama: memastikan ledakan wisata tidak justru meninggalkan masyarakat lokal sebagai penonton di tanah sendiri.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pariwisata Alor bukan diukur dari banyaknya kapal wisata yang datang, melainkan dari seberapa besar masyarakat pesisir ikut menikmati hasilnya tanpa kehilangan laut yang selama ini menjadi sumber hidup mereka. +++ marthen/*













