“Kami ingin memastikan anak-anak di Kota Kupang bisa belajar dengan fokus dan meraih prestasi terbaik di sekolah. Urusan ekonomi adalah tanggung jawab orang tua, sementara tugas utama anak-anak adalah belajar, bermain, dan bertumbuh dengan baik. Pemerintah hadir untuk memastikan hak-hak mereka terlindungi,” ujar Serena.
Dia mengingatkan bahwa keberadaan anak-anak yang berjualan hingga larut malam membawa berbagai risiko serius, mulai dari ancaman kecelakaan lalu lintas, terganggunya proses belajar karena kelelahan, hingga dampak terhadap kesehatan dan tumbuh kembang akibat berkurangnya waktu istirahat.
“Anak-anak seharusnya berada di rumah untuk belajar dan beristirahat, bukan mencari nafkah di jalan. Pemerintah berkewajiban memastikan hak-hak mereka terlindungi,” tegasnya.
Dalam perspektif pemerintahan, apa yang dilakukan Pemkot Kupang sesungguhnya merupakan upaya membangun sistem perlindungan sosial yang lebih responsif.
Patroli rutin yang dilakukan Satpol PP selama beberapa bulan terakhir memang berhasil menurunkan jumlah anak jalanan. Namun pemerintah menyadari bahwa angka penurunan itu tidak akan bertahan jika akar persoalannya tidak disentuh.
Karena itu, pendataan berkelanjutan yang dilakukan DP3A serta keterlibatan berbagai perangkat daerah menjadi bagian dari strategi yang lebih besar. Yaitu memutus mata rantai kemiskinan yang kerap melahirkan pekerja anak dari generasi ke generasi.
Kehadiran langsung Wali Kota dan Wakil Wali Kota di lapangan juga menyampaikan pesan penting tentang model kepemimpinan yang ingin dibangun. Bahwa pemimpin tidak cukup bekerja dari balik meja, tetapi harus melihat sendiri realitas yang dihadapi warga.

Operasi Penertiban Pekerja Anak malam itu bukan sekadar penertiban anak jalanan. Ini adalah upaya negara menjemput kembali masa depan anak-anak yang nyaris terseret kerasnya kehidupan. Sebab bagi Kota Kupang, tidak boleh ada anak yang kehilangan haknya hanya karena lahir dari keluarga yang sedang kesulitan.
Dan ketika Walikota dan Wakil Walikota, Christian Widodo dan Serena Francis memilih datang ke rumah-rumah mereka, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya ketertiban kota, melainkan keadilan sosial yang memberi harapan bagi generasi berikutnya. +++ marthen/*













