“Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Dengan kemauan, kreativitas dan konsistensi, ruang yang sederhana pun dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat”, ungkap politisi PDIP ini.
Yang menarik bagi Emilia Nomleni bahwa pengembangan Kebun Kreatif ini dilakukan dengan memanfaatkan waktu satu jam sebelum dan satu jam setelah jam kerja.
Aktivitas tersebut, menurut dia, menjadi gambaran bahwa produktivitas tidak selalu berhenti ketika pekerjaan administratif selesai. Ada ruang bagi ASN untuk menghadirkan gagasan, kepedulian dan karya yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan kerja.
“Ini adalah bentuk kreativitas yang patut diapresiasi. Lahan yang sebelumnya tidak produktif bisa dimanfaatkan menjadi kebun yang menghasilkan sekaligus memperindah lingkungan kantor. Kebun Kreatif tidak sekadar berbicara tentang sayur-mayur atau tanaman kebutuhan dapur. Lebih dari itu, kebun tersebut memperlihatkan bagaimana lahan tidur dapat diubah menjadi ruang produktif, ruang edukasi sekaligus ruang estetika,” ujar Emilia.
Penataan kebun yang rapi dan asri bahkan menjadikannya salah satu spot menarik di lingkungan Kantor Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT. Kehadiran ruang hijau tersebut sekaligus memperkuat wajah kantor sebagai institusi yang bergerak di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.
Emilia pun mendorong agar semangat serupa dapat direplikasi oleh perangkat daerah lainnya, terutama instansi pemerintah yang masih memiliki lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Emilia mengkritisi dalam nada mengajak, kalau ada lahan yang belum dimanfaatkan, mengapa harus dibiarkan tidur? Mari kita ubah menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat.
Menarik benang merah dari pesan sang Ketua DPRD NTT ini menjadi penting di tengah tuntutan agar birokrasi tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Pemerintah tidak selalu harus menunggu program besar dan anggaran besar untuk menciptakan perubahan. Terkadang, perubahan justru lahir dari sebidang tanah kosong, kemauan untuk bekerja dan keberanian untuk berkreasi.
Kemauan untuk Memulai













