RPJMD Teknokratik Jadi ‘Kompas’ Rencana Aksi Bupati Sikka

Teknologi dan informasi saat ini pada kenyataannya memiliki daya magic hingga merambah ke semua lini pembangunan. Tidak terkecuali rancangan pembangunan yang dibuat oleh pemerintah untuk kemaslahatan rakyat

 

Kupang, citra-news.com – KEPALA BADAN Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sikka, Adrianus F Parera, Se. M.Si mengatakan Program pembangunan dalam 5 tahun terakhir (2013-2018) memberikan penekanan pada sector-sektor prioritas. Diantaranya pendidikan, kesehatan, teknologi industry pertanian, dan pariwisata. Dan dalam kaitannya dengan sector pertanian dan peternakan, kehutanan, serta kelautan dan perikanan adalah sector-sektor primadona yang setiap tahunnya dilakukan pengembangannya.

Ditemui di Swiss Belin Hotel Kupang kepada citra-news.com Parera mengatakan, untuk rencana aksi pembangunan jangka menengah 5 tahun ke depan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka menempatkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)  Teknokratik. Dan RPJMD Teknokratik ini menjadi pemandu (kompas) bagi Bupati dan Wakil untuk visi/misi pembangunan pada 5 tahun kedepan (2018-2023).

“Dalam waktu dekat ini kami akan menyusun rencana-rencana aksi yang kami serasikan dengan visi/misi kepala daerah yang terpilih. Dan RPJMD yang kita susun ini masih mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD),” jelas dia.

Menjawab citra-news.com apa focus pembangunan yang terjadi di Kabupaten Sikka, menurut dia, dalam kepemimpinan Ansar Rera dan Paulus Nong Susar (Bupati dan Wakil Bupati) piahk Bappeda Kabupaten Sikka mencoba mengevaluasi beberapa kegiatan yang terlaksana di RPJMD 2013 2018. Ada sector-sektor yang menjadi unggulan pembangunan yakni sector dan sub sektor pertanian perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan dan Sektor Pariwisata. Untuk sub sector perkebunan yang menjadi unggulan adalah pengembangan tanaman kelapa, kakao, jambu mete. Ke depan ini tiga komoditas ini masih ungulan.

Untuk tanaman KELOR, tambah dia, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya kita (Bappeda Sikka) melakukan pengembangan dan pembudidayaannya. Di Kabupaten Sikka Tanaman Kelor ini tersebar hampir merata di semua wilayah. Dan tanaman inisebetulnya tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti tanaman perkebunan lainnya. Bahkan juga tidak membutuhkan media yang bergantung pada kondisi tanah serta iklim dan cuaca. Tinggal saja kita mengarahkan masyarakat untuk kelor yang memberikan manfaat ganda bagi kehidupan manusia.

“Besok ini (Jumat, 11 Mei 2018) kami bahas bersama dengan NGO bagaimana konsep-konsep pengembangan tanaman Kelor, agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. Untuk Kabupaten Sikka tanaman Kelor sudah ada sejak dulu kala. Hanya saja sekarang kita selaraskan dengan tanaman padi jagung kedelai (Pajale) yang dipadukan dengan pengembangan peternakan. Dan pengembangan tanaman Pajale serta usaha peternakan menjadi tuntutan kita untuk terus gencar melaksanakan karena terkait dengan program nasional,”jelas dia.

Pembangunan yang sangat prospektif lainnya, lanjut dia, yakni pengembangan pariwisata. Dengan kabupaten Sikka mendapat branding akan obyek terumbu karang terfavorit secara nasional maka ke depannya terus dikembangkan obyek-obyek kemaritiman lainnya. Karena hemat saya pariwisata itu harus punya brand di setiap daerah.

“Kalau pariwisata tanpa brand saya kira kita tidak mendapat nilai lebih terutama dalam mendongkrat perekonomian rakyat. Karena berbicara soal pariwisata di seluruh Indonesia ini punya. Dan menjadi branding kita di Kabupaten SIKKA adalah tempat PENYELAMAN TERPOPULER di Indonesia. Disana ada 26 spot dan mendapat piagam penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017. Inikan sesuatu yang luar biasa”.

Hal-hal yang menjadi daya tarik akan obyek pariwisata adalah aksesibilitas serta penataan sarana/prasarana yang memadai. Pemerintah Kabupaten Sikka memperhatikan hal ini dengan intervensi dana guna membiayai destinasi yang tersebar di beberapa spot itu. Dan Revitalisasi pembangunan destinasi, menjalin kemitraan, serta pengembangan SDM kepariwisataan.

Apa komentar anda terkait Badan Pengelolaan Pariwisata. Dikatakannya, BPP yang ada merupakan mitra pemerintah dalam kegiatan kepariwisataan. Entah ASITA dan juga beberapa pihak swasta lainnya, semuanya mengambil untuk memajukan pariwisata.

Soal pembangunan pelabuhan Jeti di Kabupaten Sikka, menurut dia, pembangunan jeti berlokasi di Wair Terang Kecamatan Kewapante. Biaya pembangunannya bersumber dari dana  alokasi khusus (DAK).

“Kemudian ada juga Pelabuhan MARINA dari sumber dana APBN. Iya itu baru ada informasi kalau Kabupaten Sikka salah satu sasaran pembangunan Pelabuhan Marina. Dan ini juga merupakan bagian dari upaya pengembangan destinasi pariwisata secara nasional,”tandasnya. +++  cnc1

 

Gambar : Adrianus F. Parera, SE, M.S.i Kepala Bappeda Kabupaten Sikka (doc. marthen radja/CNC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *