BETA PEDULI Memberdaya Kaum MARGINAL Tidak Berdaya

Melakukan hal yang kecil dengan cinta yang besar adalah pahala. Dan itu jika dilakukan dengan niat yang tulus dan dengan hati nan ikhlas.

Kupang, citra-news.com – RUANG gerak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang satu ini agaknya berbeda dengan LSM pada umumnya.  Uniknya lembaga BETA PEDULI dalam menjalankan misinya lebih memprioritaskan fakta-fakta kehidupan social kemasyarakatan yang terabaikan dan atau luput dari perhatian pemerintah.

Ferdrian P.B Ngongo, pimpinan LSM BETA PEDULI dalam temu pers di Kupang, Kamis 2 Agustus 2018 mengatakan, hal-hal praktis yang pihaknya lakukan adalah membantu memberikan jalan keluar bagi kaum marginal yang mengalami kesulitan hidup. Baik untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan, pendidikan, dan memberdaya kehidupan kelompok masyarakat marginal (kaum papa) yang tidak berdaya secara ekonomi.

“Sesungguhnya ruang gerak LSM yang kami dirikan ini tidak berbeda dengan LSM lainnya. Namun kami kemas sedikit lebih dinamis, kreatif, inovatif, dan visioner sesuai dengan perkembangan kehidupan jaman kini. Apalagi pelaku-pelaku di dalamnya adalah kelompok orang muda yang memiliki kepekaan social yang tinggi,”kata Rian.

Diakuinya, eksistensi BETA PEDULI ibarat baru seumur jagung. Ia baru didirikan pada tanggal 17 Maret 2018 dan baru aktif pada tanggal 5 Mei 2018. Walau demikian hal kecil yang sudah dilakukan BETA PEDULI adalah membantu mencarikan biaya operasi bagi Nadin Pandie yang lahir tanpa dubur (anus). Penderita ini sudah 13 tahun mengalami kesulitan mengalami BAB (buang air besar).

“Bisa dibayangkan sudah selama 13 tahun menderita namun belum satu pihaknya tergerak hati untuk mencarikan jalan keluar. Tidak terkecuali pemerintah. Apalagi si anak ini punya orangtua yang juga terbatas secara ekonomi. Terhadap anak ini atas upaya BETA PEDULI sudah dilakukan operasi dengan jalan membelah pada bagian perutnya agar bisa BAB. Itupun saat BAB harus ditekan pakai tangan,”jelas Rian.

Penderita kelainan lainnya, tambah Rian, adalah Andri, Jamila Ola, dan Larasati. Khususnya Jamila Ola yang menderita jantung bocor, BETA PEDULI  juga menggalang dana untuk biaya operasi di Jakarta.

“Iya namanya juga kita meminta bantuan biaya dari pihak lain. Ada yang memberi dengan ikhlas hati tapi ada kebanyakan yang harus bersungut-sungut setelah memberi. Faktanya ketika kami hubungi pihak Garuda Air lines untuk urusan tiket ke Jakarta saja, harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Terakhir saya putuskan sudahlah, apapun yang terjadi kita harus bawa Jamila ke Jakarta. Orang ini kita harus selamatkan,”ucap Rian.

BETA PEDULI yang lahir dengan spirit ‘membantu hal yang kecil dengan cinta yang besar’ ungkap Rian, tentunya Tuhan tidak menutup mata. Asalkan kita punya niat yang tulus dan membantunya dengan ikhlas hati. Dan rata-rata anak-anak yang sedang kami tolong saat ini punya latar belakang kehidupan ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Tapi tidak terdeteksi oleh pemerintah akan hal-hal kecil itu.

“Jadi kendala  yang dihadapi BETA PEDULI adalah soal ‘sukarela’ dari para pihak. Karena itu kami merasa terpanggil untuk bergerak dalam ketekunan dan kesungguhan. Dan kami transparan untuk mempertanggungjawabkan semuanya itu,”Suar menambahkan.

Sementara Peter Neno Aefeto, Staf Kelurahan Fatubesi Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, menambahkan pihak pemerintahan kelurahan Fatubesi sangat mendukung misi kemanusiaan yang diemban BETA PEDULI.

“Sesuai pesan dari pak Lurah kalau ada hal-hal yang bisa dibantu maka pihak kelurahan akan siap membantunya.  Apalagi tersentuh dengan kebutuhan social masyarakat yang terkandung maksud  pelayanan kesejahteraan khususnya bagi warga Kota Kupang,”tandasnya. +++ cnc1

Gambar : Fredrian P.B Ngongo (kanan depan) saat temu pers dengan sejumlah wartawan media massa cetak dan media Online/Portal Berita di Warkop BETA PEDULI Kota Kupang. Doc. marthenradja/CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *