Penambang Pasir TEWAS Terkubur Tanah Longsor

Akibat tanah longsor 4 (empat) orang warga tertimbun material dari tebing bukit setinggi 12 meter. Bahkan 3 (tiga) orang diantaranya meninggal  seketika dan 1 (satu) orang sekarat. 

Maumere, citra-news.com – BISNIS bahan galian C berupa batu dan pasir demikian                    menguntungkan. Menyebabkan warga berlomba-lomba menambang (menggali) dan mengumpulkan material bangunan tersebut untuk dijual. Sayangnya warga masyarakat tidak memikirkan dampak ikutan sebagai akibat dari penambangan liar. Termasuk mempekerjakan anak dibawah umur.

Pada Senin 7 Januari 2019 warga Dusun Watuwolot Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka, digegerkan dengan peristiwa tanah longsor yang menguburkan 4 (empat) orang penambang pasir liar. Tragisnya  3 (tiga) korban yang tewas adalah anak dibawah umur. Masing-masing Petrus Afriandi (11) SDK Hale, Emanuel Jefriano Armando (8) SDK Hale, dan Silversius Silik (10) Tidak Sekolah. Sedangkan Marselinus Moa alias Doni (20) pekerjaan sopir, menderita luka robek di betis kaki kiri dan daging betis hancur, serta luka lecet di pelipis kanan.

Meskipun Marselinus Moa satu-satunya korban yang selamat namun sebelum penanganan                      medis kondisinya sekarat.

Pasca kejadian aparat Polsek Bola dan Polres Sikka mendatangi TKP melakukan olah TKP memasang garis polisi (police line). Bersama tim evakuasi beranggotakan BASARNAS, BPBD Kabupaten Sikka, Tagana, dan anggota Koramil Bola melakukan penggalian korban yang tertimbun material longsor. Masing-masing korban yang meninggal dibawa ke masing-masing keluarga dan memberikan bingkisan duka berupa uang, beras, air mineral, dan mie instan.

Turut hadir sebagai Tim Evakuasi, Kapolres Sikka AKBP Rickson PM Situmorang, S.IK. Waka Polres, Kompol Iwan Iswahyudi, S.Pd, Kabag Sumda Polres Sikka, Kompol M. Johanes; dan beberapa petinggi pada jajaran Polres Sikka, serta Kapolsek Bola, IPDA Darius Dewa. Juga hadir Kepala BASARNAS Kabupaten Sikka, SUDAYANA; Kadis Sosial Emiliana Laka, S.Sos; Camat Mapitara Dra.Theresia Donata Silmeta; Kepala Desa Hale Albertus Ruben Anggota DPRD Sikka Aleksander Agato.

Hasil Press Release dari DUM Polres Sikka yang dilaporkan wartawan citra-news.com Maumere, Armando menguraikan kronologis kejadian akibat musibah tanah longsor, korban meninggal dunia. Sebelum kejadian korban atas nama Petrus, Emanuel, dan Silik menggali pasir di tebing yang tingginya 12 meter yang ada dalam areal milik Januarius Johny. Dan korban atas nama Marselinus Moa sementara memilih batu yang berdekatan dengan tiga korban.

Karena keasyikan menambang tiba-tiba saja tanah tebing ambruk langsung menutup para korban. Sehingga para korban tidak bisa lagi berlari menyelamatkan diri. Para saksi yang melihat kejadian, masing-masing Irwan (18); Irfantus (18) yang adalah pelajar SMK di Kota Maumere, dan Heri (32). Saksi Irwan dan Irfantus melihat korban atas nama Silik dengan posisi tangan masih diluar dan berteriak minta pertolongan.

Mendengar teriakan minta tolong saksi Irwan dan Irfantus bergegas memberikan pertolongan dengan menggali tanah dan menarik keluar korban dari tumpukan material longsor. Upaya saksi membuahkan hasil dan korban langsung dilarikan ke Puskesmas Mapitara dan selanjutnya dirujuk ke RSUD T.C Hillers Maumere. Sedangkan tiga korban lainnya tidak dilihat saksi karena tertutup dengan material longsoran.

Atas kejadian itu aparat Polres baru membuat laporan dan terkesan lamban menangani karena alasan cuaca dan signal terganggu. Sehingga informasi tertunda sampai ke tengah public.

Pekerjakan Anak Dibawah Umur dengan Upah Murah

Diketahui di lokasi TKP seringkali terjadi musibah yang meregang nyawa para penambang galian C. Namun demi memenuhi kebutuhan keluarga warga pekerja tak jua menyerah. Tidak peduli anak dibawah umur pun dipekerjakan sang pemilik ladang Galian C, Januarius Johny. Berdasarkan laporan warga Januari Johny sering menyuruh warga mengumpulkan batu pasir dan dibeli dengan harga murah. Para penambang dewasa hanya dibayar upah Rp 50.000  per ret mobil, sedangkan anak-anak dihargakan Rp 5000 per ukuran 3 zak semen.

Lebih dari itu lokasi ‘garapan’ empunya Johny tersebut sudah berlangsung 10 tahun lebih. Dan hampir pasti warga sekitar sudah merasa memilikinya sebagai ladang penghidupan. Entah hubungan bisnis yang saling mengutungkan para pihak terutama aparat pemerintah desa dan pemerintah kecamatan sehingga si Johny pemilik lahan Galian C  tidak peduli akan dampaknya. Faktanya pemerintah setempat tidak pernah menegur apalagi membuat larangan. Hingga berakibat maut sekalipun keluarga korban yang tertimbun material longsor di lokasi penambangan liar itu, tidak rela korbannya diautopsi. +++ amor/cnc

Sumber/Laporan : DUM Polres Sikka/Armando WS/CNC

Editor : marthen radja

Gambar : Tim Evakuasi korban tanah longsor di lokasi tambang batu pasir di Dusun Watuwolot Desa Hale Kecamatan Mapitara Kabupaten Sikka, Senin 7 Januari 2019.                     

Foto : Doc. CN/DUM Polres Sikka/Armando-CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *