Hasil Press Release dari DUM Polres Sikka yang dilaporkan wartawan citra-news.com Maumere, Armando menguraikan kronologis kejadian akibat musibah tanah longsor, korban meninggal dunia. Sebelum kejadian korban atas nama Petrus, Emanuel, dan Silik menggali pasir di tebing yang tingginya 12 meter yang ada dalam areal milik Januarius Johny. Dan korban atas nama Marselinus Moa sementara memilih batu yang berdekatan dengan tiga korban.
Karena keasyikan menambang tiba-tiba saja tanah tebing ambruk langsung menutup para korban. Sehingga para korban tidak bisa lagi berlari menyelamatkan diri. Para saksi yang melihat kejadian, masing-masing Irwan (18); Irfantus (18) yang adalah pelajar SMK di Kota Maumere, dan Heri (32). Saksi Irwan dan Irfantus melihat korban atas nama Silik dengan posisi tangan masih diluar dan berteriak minta pertolongan.
Mendengar teriakan minta tolong saksi Irwan dan Irfantus bergegas memberikan pertolongan dengan menggali tanah dan menarik keluar korban dari tumpukan material longsor. Upaya saksi membuahkan hasil dan korban langsung dilarikan ke Puskesmas Mapitara dan selanjutnya dirujuk ke RSUD T.C Hillers Maumere. Sedangkan tiga korban lainnya tidak dilihat saksi karena tertutup dengan material longsoran.
Atas kejadian itu aparat Polres baru membuat laporan dan terkesan lamban menangani karena alasan cuaca dan signal terganggu. Sehingga informasi tertunda sampai ke tengah public.
Pekerjakan Anak Dibawah Umur dengan Upah Murah
Diketahui di lokasi TKP seringkali terjadi musibah yang meregang nyawa para penambang galian C. Namun demi memenuhi kebutuhan keluarga warga pekerja tak jua menyerah. Tidak peduli anak dibawah umur pun dipekerjakan sang pemilik ladang Galian C, Januarius Johny. Berdasarkan laporan warga Januari Johny sering menyuruh warga mengumpulkan batu pasir dan dibeli dengan harga murah. Para penambang dewasa hanya dibayar upah Rp 50.000 per ret mobil, sedangkan anak-anak dihargakan Rp 5000 per ukuran 3 zak semen.












