Tinggi Curah Hujan Suplay Air Sawah Tadah Hujan

Anis Tay : Meskipun curah hujan cukup tinggi pada bulan Januari hingga Pebruari 2019, namun kita optimis produksi padi, jagung, dan tanaman holtikultura lainnya akan baik dan meningkat.

Kupang, citra-news.com – KEPALA Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Yohanis Tay Ruba, M.Si mengakui terjadinya hujan lebat dan diiikuti agin kencang di beberapa                  wilayah di NTT beberapa waktu lalu, cukup meresahkan petani. Karena tanaman jagung rebah akibat angin. Akan tetapi para petani tidak perlu kuatir tanaman jagung yang ada bisa menghasilkan buah dan berproduksi baik.

Ditemui citra-news.com di ruang kerjanya di bilangan jalan Polisi Militer Kota Kupang, Senin 4 Pebruari 2019, Anis –demikian ia akrab disapa, menjelaskan kekuatiran para petani soal ratanaman jagung di Kabupaten Flores Timur dan sebagian di Kabupaten Sikka, dan Sumba Barat Daya telah teratasi oleh pihak dinas pertanian setempat. Para petugas pertanian dari dinas setempat melakukan upaya dengan membuat gundukan dan tonggak penahan di setiap rumpun jagung.

“Para petani yang mengalami kondisi itu tidak perlu kuatir. Karena tanaman jagung yang rebah itu belum memasuki tahap generative. Masih pada tahap vegetative, apalagi sudah diselamatkan dengan pembuatan gundukan atau tonggak,”kata Anis.

Dikatakan, untuk musim tanam (MT) 2018-2019 sebagian petani NTT, khususnya di lahan kering, mereka mulai menanam padi gogo dan jagung pada bulan Oktober 2018. Dengan adanya curah hujan yang cukup tinggi pada bulan Januari dan Pebruari 2019 justru persediaan air cukup bagi tanaman pertanian. Dan ini ke depannya baik untuk mensuplay air sawah tandah hujan, katanya.

Pada beberapa wilayah yang punya potensi garapan sawah tadah hujan, lanjut dia, lahan yang ada masih bisa diolah sampai dengan awal Maret 2019. Ada sebagian petani sawah tadah hujan saat ini sedang persemaian bibit atau benih padi. Dan kita optimis bisa memberikan hasil yang cukup baik.

Menjawab program pembangunan pertanian untuk tahun 2019, mantan Penjabat Bupati Ngada itu mengatakan tidak jauh berbed dengan tahun-tahun sebelumnya. “Spirit yang kita bangun adalah peningkatan produksi dan produktivitas plus nilai tambah usaha pertanian. Nilai tambah dimaksud contohnya produksi padi 10 ton misalnya tidak hanya untuk konsumsi akan tetapi sebagian bisa dijual untuk membuka usaha mikro lain”jelas Anis.

Dalam mendukung Gerakan Revolusi Hijau yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi, Dinas Pertanian Provinsi NTT juga tengah giat mengembangkan tanaman kelor (moringa). Selain menanam di kebun contoh dinas pertanian juga membagi anakan kelor untuk dikembangkan masyarakat.

“Pengembangan tanaman kelor atau marungga ini kita lakukan secara masiv di semua wilayah kabupaten/kota se-Provinsi NTT. Baik dikembangkan secara monokultur maupun sebagai tanaman pagar dan aleokroping atau tanaman sela. Kita perkirakan sekitar bulan Maret atau April tanaman kelor sudah bisa produksi daun dan cukup untuk kebutuhan konsumsi dan usaha hilir lainnya,”ucap Anis.

Soal produksi padi dan jagung pada tahun 2018, tambah dia, produksinya cukup signifikan meningkat. Untuk tanaman jagung saja sebanyak 650 ton. Kami optimis produksinya bertambah di tahun 2019. Karena di beberapa wilayah dengan luasan areal diatas 10 hektar, pemerintah melalui dinas pertanian memberikan bantuan peralatan brigade Alsintan (peralatan mesin pertanian), berupa mesin panen padi. +++ cnc1

Gambar : Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanis Tay Ruba, M.Si

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *