IJAZAH Bukan Ukuran Tapi SLB Butuh KOMPETENSI

Hendrina : “Saya merasa terpanggil untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB) membutuhkan pelayanan yang lebih dari sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan…”

Kupang, citra-news.com – KEPALA DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi  Nusa Tenggara Timur (Kadis P dan K Prov. NTT), Drs. Benyamin Lola, M.Pd mengatakan, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB) sangat jauh berbeda dengan sekolah formal lainnya. Karena guru SLB harus berhadapan dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Oleh karena itu ijazah bukan ukuran tapi SLB lebih membutuhkan kompetensi guru.

“Semua guru bisa mengajar tapi tidak semua guru bisa mendidik. Terutama mendidik anak-anak di SLB. Dimana di sekolah ini menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Karena itu di SLB guru harus bisa mendidik anak untuk bisa trampil melakukan sesuatu,”jelas Benyamin di ruang kerja Alo Min, Sekretaris Dinas P dan K Pov. NTT di Gedung I.H. Doko Jalan Soeharto Kupang, Timor NTT, Senin 6 Mei 2019.

Pernyataan Benyamin ini terkait upaya Ferdinan M. Magang, yang konon adalah mantan KTU di UPT Pendidikan Wilayah 5 Kabupaten Alor, agar oknum guru  bernama HENDRINA ILLU, dianulir dari pengangkatan dan pelantikan jabatan kepala sekolah (Kasek).  Karena menurut Ferdy guru Hendrina Illu tidak pantas menjadi Kasek karena hanya berijazah SPG.

Menyikapi akal bulus dari Ferdy ini, Kadis Benyamin menyatakan, menjadi guru atau kepala sekolah di SLB bukan perkara mudah. Guru dalam mendidik anak-anak SLB tidak sama seperti mendidik anak-anak di sekolah formal lainnya. Guru-guru yang bukan berijazah Sarjana pun kalau memiliki kompetensi atau keahlian khusus dan mampu mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, kenapa tidak?

“Oleh karena itu mengangkat guru atau kepala sekolah di SLB, ijazah bukan ukuran. Tapi memiliki kompetensi atau keahlian khusus pada bidang yang selama ini digeluti. Jadi dalam mengangkat kepala sekolah selain terpenuhi semua persyaratan administratif juga yang bersangkutan harus memiliki kompetensi atau keahlian,”tegas.

Terkait syarat kompetensi ini, Hendrina Illu (Guru SLB) adalah satu-satu Kasek yang meskipun hanya berijazah SPG tapi ia lolos nominasi dan berhasl dilantik bersama 89 orang Kasek dan Pengawas oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. JOSEF A. Nae Soi.

Diketahui, ke-89 guru SMA/SMK dan Pengawas se-Provinsi NTT tersebut diangkat dan dilantik pada Selasa, 07 Mei 2019 di Gedung Sasando Kantor Gubernur di bilangan Jalan El Tari Kota Kupang, Timor-NTT.

“Saya juga tidak berambisi untuk menjadi kepala sekolah. Tapi sebagai guru saya mengabdi sepenuhnya untuk mendidik dan mengajar anak-anak generasi bangsa. Kalau hari ini saya dilantik menjadi kepala sekolah di SLB Negeri Pantar, itu penilaian atasan saya yaitu kepala dinas. Karena saya sadar kalau saya hanya berijazah SPG tapi saya mampu mengajar dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus,”ungkap Hendrina.

Kepada citra-news.com usai acara pelantikan di Aula Fernandes Gedung Sasando pada hari itu Hendrina membeberkan, dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai guru SLB bagaimana kita melayani dengan hati. Apalagi SLB Negeri Pantar ini ada di kampung halaman saya sendiri maka saya merasa terpanggil untuk kembaliuntuk melayani. Karena sebelumnya saya melayani sekolah regular di luar Pantar. Lebih dari itu saya merasa kalau anak-anak SLB terlalu membutuhkan pelayanan lebih karena mereka berkebutuhan khusus.

“Keterpanggilan saya ini sejak saya dilantik oleh Kepala Dinas, bapak Alberth Ouwpoly pada tanggal 02 September 2016. Maka saya bersedia berada di Pantar untuk mengajar dan mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus. Atau tepatnya saya mulai aktif di SLBN Pantar  pada tanggal 13 September 2016,”jelas dia.

Menjawab upaya Ferdinan M. Magang menghadap Kepala Dinas P dan K Prov NTT dan beberapa petinggi di dinas itu, pada Senin, 6 Mei 2019 untuk menganulirnya. Hendrina menegaskan, hari ini (Selasa, 07 Mei 2019) saya dilantik bukan tanpa proses. Saya (Hendrina Illu) seleksi administrasi dan testing kepala sekolah. Saya ikut test bersama calon kepala sekolah lainnya pada bulan Februari 2019. Dan saya ikuti proses seleksi ini sampai selesai.

“Tidak ada kongkalingkong dengan pihak manapun seperti yang diduga pak Ferdy itu. Sebagai PNS saya menjalankan apa yang diperintahkan bahwa saya memasukan berkas untuk diseleksi. Dan kemudian mengikuti testing kepala sekolah. Sebagai PNS dan setelah dilantik jadi kepala sekolah saya bertanggungjawab atas panggilan ini,”tegas Hendrina.

Memanusiakan Manusia Abnormal

Menurut Hendrina jabatan adalah sebuah amanah atau panggilan. Oleh karena amanah ini maka saya (Hendrina Illu) harus bertanggungjawab sepenuihnya atas panggilan ini untuk melayani dengan hati bagi anak-anak berkebutuhan khusus (abnormal). Untuk bagaimana memanusiakan manusia yang abnormal ini.

Perlu diketahui, lanjut Hendrina, di Pantar khususnya belum ada SLB.  Dan terlalu banyak anak-anak yang berkebutuhan khusus. Anak-anak ini kemudian saya kumpulkan satu persatu dari kampung ke kampung. Saya cari anak-anak ini sampai ke gunung-gunung, saya lakukan sosialisasi ke orangtua mereka lalu mengijinkannya bisa masuk SLB. Karena apa karena anak-anak ini walaupun terbatas secara fisik namun mereka sangat membutuhkan pendidikan.

Kata Hendrina, adanya niat busuk dari Ferdinan Magang untuk membatalkan pelantikan terhadap diri saya menjadi kepala sekolah SLB karena alasan ijazah. Bagi saya ijazah bukan menjadi ukuran kesuksesan guru dalam mendidik dan mengajar. Akan tetapi saya sudah mampu berbuat yang terbaik baik anak-anak berkebutuhan khusus. Kepala dinas sudah tahu koq siapa saya. Dan saya juga tidak punya ambisi untuk harus jadi kepala sekolah.

Dengan air mata membulir di matanya, wanita ini mengatakan, profesi guru adalah sebuah panggilan. Karena ini adalah panggilan maka apapun yang terjadi. Mau jadi kepala sekolah atau tidak  saya tetap melayani dengan hati. Melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus ini dengan tulus dan ikhlas hati, tanpa berharap jabatan sedikitpun. Karena terhadap anak-anak ini tidak banyak orang yang mau peduli.

“Sebagai guru PNS saya harus peduli bagaimana memanusiakan manusia. Walaupun anak-anak ini berkemampuan terbatas secara fisik akan tetapi mereka juga butuh pendidikan yang sama seperti anak-anak normal lainnya,”ungkap Hendrina yang mengaku pernah jadi guru honorer tanpa upah sejak tahun 2003.

Sementara Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas P dan K Provinsi NTT, VALENS mengatakan, upaya guru untuk memanusiakan manusia yang abnormal bukan perkara mudah. Karena yang lebih memahami karakter dan kepribadian anak-anak yang berkebutuhan khusus, hanya ada pada guru yang memiliki keahlian khusus (kompetensi).

Menurut dia, pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan tidak hanya mengangkat guru-guru yang berijazah Sarjana.  Ijazah itu memang syarat umum. Tapi ada pertimbangan khusus lain yang mengikutinya yakni memiliki kompetensi pada bidangnya. Sehingga layak ibu Hendrina Illu diangkat jadi kepala sekolah SLB karena dia punya keahlian khusus.

“Meskipun ibu Hendrina hanya berijazah SPG tetapi dia punya kompetensi dan mampu mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dan itu katanya dia sudah lama mengajar di SLB. Sudah tentu dia sudah memahami karakter dan kepribadian anak-anak yang berkebutuhan khusus itu,”kata Valens di ruang kerjanya, Kamis 09 Mei 2019.  +++ marthen/citra-news.com

Gambar : HENDRINA ILLU (ke-2 dari kanan) pose bersama Kepala Bidang PKLK Dinas P dan K Provinsi NTT, VALENS (ke-3 dari kanan) dan beberapa guru dari Kabupaten Alor usai pelantikan di Kupang, Selasa 07 Mei 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *