Dugaan Korupsi NTT FAIR Mengotori APBD 2018

Foto YUCUN Lepa (kiri), Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Gedung 2 DPRD Provinsi NTT, Jalan Polisi Militer Kupang-Timor NTT Jumat 21 Juni 2019. Doc. CNC/marthen radja

Kasus gedung mangkrak NTT FAIR hampir pasti akan menarik gerbong kasus terindikasi korupsi lainnya di Provinsi NTT. Kasus dugaan korupsi yang konon beraromakan affair ini, telah melumpuhkan tiga tersangka perempuan dan sedang ditahan pihak Kejati NTT. Bahkan FKB menyatakan kasus gedung mangkrak itu telah mengotori APBD 2018. Astaga!

Citra-News.com, KUPANG – PENAHANAN 6 (enam) orang tersangka (TSK) kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Gedung NTT Fair, menjadikan pihak Kejaksaaan Tinggi NTT juga secara intens melakukan pemeriksaan-pemeriksanaan lanjutan.

Faktanya pada Senin 17 Juni 2019 ke-6 TSK masing-masing YA, DT, HP, LL, BY, dan FB kembali diperiksa Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) yang diketuai oleh Jaksa Roberth Jimmy Nambila SH, MH. Intensitas pemeriksaaanlanjutan  kasus dugaan korupsi gedung pusat pameran (NTT Fair) yang terketak di kawasan Bimoku Kelurahan Lasiana Kota Kupang-Timor, Provinsi NTT ini dimaksudkan untuk mengetahui bertambah tidaknya saksi dan tersangka.

“Iya keenam tersangka dijadwalkan untuk diperiksa lagi hari ini (Senin, 17 Juni 2019, red) oleh Jaksa penyidik. Pemeriksaan ini untuk melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para tersangka. Selain juga sebagai bahan untuk bisa mengungkap peran saksi atau tersangka dalam kasus ini. Kemungkinan ada tambahan saksi dan tersangka baru,”kata Abdul Hakim, Kepala Sekesi Penegakan Hukum dan Hubungan Masyarakat Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT), di Kupang, Senin 17 Juni 2019.

Sebelumnya diberitakan, pada Kamis 13 Juni 2019 tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejati NTT telah menahan 6 orang tersangka dalam kasus dugaan Korupsi Proyek Pembangunan NTT Fair senilai Rp 29,9 milyar lebih oleh PT. Cipta Eka Puri selaku Kontraktor Pelaksana.

Ke enam tersanga ini masing-masing Yuli Afra alias YA (mantan kepala dinas/Kadis PRKP Prov.NTT) selaku Kuasa Pengguna Anggaran/KPA; Dona Fabiola Toh alias DT selaku Pejabat Pembuat Komiten (PPK); Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri, Linda Liudianto alias LL; Direktur Utama (Dirut) PT Cipta Eka Puri, Hadmen alias HP; serta Konsultan Pengawas BY dan FB.

Foto Yucun Lepa membacakan materi Pendapat Akhir FKB pada Sidang Paripurna Dewan, Jumat malam 21 Juni 2019. Doc. CNC/marthen radja

Terhadap kasus yang juga melibatkan mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Benediktus Polo Maing (sekarang Sekda NTT). Kedua pejabat ini berstatus sebagai saksi dan terperiksa pada beberapa waktu lalu. Dan dinamika kasus perkara yang digelar oleh Kejati NTT ini tercium aroma korupsi dana APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp 4 miliar lebih. Untuk item kegiatan pembangunan gedung NTT fair oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP/Perkim) Provinsi NTT asuhan Ir. Yuli Afra selaku Kepala Dinas sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Kasus ini terkuak juga dalam sidang Paripurna Dewan yang digelar pada Jumat 21 Juni 2019, di Ruang Kelimutu Gedung 2 DPRD Provinsi NTT bilangan Jalan Polisi Militer/PM Oebobo Kota Kupang. Fraksi Partai Kebangkitan (FKB) seolah  menyangsikan penilaian Badan Pemeriksanaan Keuangan (BPK), terhadap  Kinerja Keuangan Daerah. Bahwa Provinsi NTT kembali mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Namun SILPA (sisa lebih penggunaan anggaran) yang  cukup besar, ucap Yucun, mengindikasikan bahwa pengelolaan keuangan sebagai integral dalam instrument kebijakan, BELUM menjadi jawaban terhadap masalah pembangunan secara tepat waktu dan tepat saran. Catatan positif dengan predikat WTP dari hasil pemeriksanaan BPK  dengan realitas bahwa disana-sini masih saja ditemukan sejumlah proyek mangkrak.

Nyanyian Sunyi Fraksi PKB di Panggung PARIPURNA

Seperti halnya NTT Fair dan Monumen Pancasila, lanjut Yucun, FKB berharap agar WTP yang kita terima sebagai predikat yang membanggakan ini tidak dikotori dengan proyek-proyek mangkrak seperti tersebut ini. Terlepas dari seberapa besar manfaat yang diberikan kedua megaproyek yang sedang mangkrak ini bagi masyarakat NTT. Bahwa Gedung NTT Fair dan Monumen Pancasila adalah bagian dari APBD Provinsi NTT tahun 2018 yang HARUS dituntaskan.

Foto kursi kosong diambil dari arah belakang deretan kursi yang harus diisi ASN lingkup Pemprov NTT, pada sidang paripurna di Ruang Kelimutu Gedung 2 DPRD Provinsi NTT, Jalan Polisi Militer Kupang-Timor NTT, Jumat 21 Juni 2019. Doc. CNC/marthen radja

Rasa kantuk para undangan terusik seketika. Terlihat mereka menyendengkan telinga mendengarkan isi materi yang dibaca Yucun Lepa. Kutipan sajak Chairil Anwar dan bercampusari sengan sejumlah catatan kritis FKB pun terus dikumandangkan.

Soal kepemilikan asset FKB dari tahun ke tahun  terus melitaniakan asset-asset daerah yang belum difungsikan secara maksimal sebagai sumber pendapatan daerah, ungkap Yucun. Dia menyebutkan, ada tanah di Bandung, ada Asrama di Yogyakarta yang kehilangan fungsi, ada tanah dan bangunan di wilayah NTT. Fraksi Kebangkitan Bangsa tidak ingin merekomendasikan harus bagaimana asset-aset tersebut dikelola.

Kami percaya bahwa Gubernur visi bisnis yang sangat tajam. Di tanganmulah asset-aset ini diserahkan. Mengutip penggalan sajak Chairil Anwar //…Kami adalah tulang-tulang berserakan//Tetapi adalah kepunyaannmu//kaulah yang memberi arti pada tulang-tulang berserakan itu…//

Kebijakan-kebijakan strategis yang diambil pemerintah pada tahun anggaran 2018 dalam konteks pembangunan daerah, lanjut Yucun, adalah tahun anggaran yang instrument kebijakannya diletakan pada visi, misi, orientasi dan skala prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur sebelumnya (Frans Lebu Raya dan Benny A. Litelnoni, red).

Namun sebagai sebuah siklus pemerintahan tahun anggaran 2018 adalah bagian yang tak terpisahkan dengan perjalanan kita saat ini. Terlebih lagi dalam konteks pertanggungjawanban public, dan anggaran yang mengisyaratkan keberlanjutan pembangunan. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *