REFAFI dan CHRIS Tidak Bergeming Isu Pilkada

REFAFI Gah (kiri) dan Ben Isidorus pose bersama di halaman Gedung DPRD NTT Kupang, Jumat 04 Oktober 2019. Doc.CNC/marthen radja.

Menjadi anggota legislatif punya ruang yang menganga menuju kursi calon kepala daerah. Entah melirik kursi calon gubernur/wakil atau bupati walikota/wakil bahkan kursi menteri kabinet. Bukankah ini model politik transaksional?

Citra-News.Com, KUPANG – POLITIK Transformasional adalah model politik yang menerapkan kebijakan politik yang pro rakyat. Politisi yang sanggup berjuang dan mampu menjamin (terutama) semua kebutuhan utama masyarakat. Cukup pangan (makanan seimbang dan bergizi), rakyat cukup punya rumah  layak huni, cukup air bersih dan kebutuhan lisrik serta memiliki akses infrastruktur yang memadai.

Sedangkan politik transaksional yakni model politik yang lebih mengedepankan kepentingan diri sendiri dan atau kelompok/golongan. Politik model ini lazim dipraktekkan oleh oknum politisi untuk meraih jabatan atau kedudukan tertentu  dalam masyarakat.

Dan tidak dipungkiri kalau kedua model politik ini bergulir bersamaan di masyarakat demokrasi saat ini. Tinggal saja bagaimana sikap masyarakat dalam memilih para wakilnya yang dapat dipercaya.

“Untuk Pilkada di Kabupaten Sumba Timur tahun 2020 ini kami punya prinsip menjalankan apa yang sudah dipecayakan rakyat di Dapil (daerah pemilihan) Sumba Raya untuk kami duduk di kursi anggota DPRD Provinsi NTT. Karena rakyat telah menaruh harapan besar untuk kami mampu meneruskan aspirasi dan kebutuhan mereka saat ini. Masih ada banyak kebutuhan rakyat yang harus kami perjuangkan di kursi dewan,”ungkap REFAFI Gah saat ditemui awak citra-news.com di Gedung DPRD NTT, Jumat 04 Oktober 2019.

Perjuangan akan pemenuhan kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur khususnya, tegas Ketua DPD Partai Hanura ini, maka tidak harus jadi Bupati. Dengan menjaga apa yang sudah dipercayakan rakyat kita bisa duduk di kursi DPD NTT merupakan bagian penting untuk dijalankan.

“Terus terang saya tidak sedikitpun bergeming dengan tawaran-tawaran politik Pilkada 2020. Karena bagi saya rakyat sudah beri kepercayaan lalu kita mau beralih jadi calon kepala daerah, itukan lucu. Masih ada banyak kader dan politisi diluar sana mendapatkan kesempatan itu. Saya tidak mau mencederai kepercayaan yang diberikan rakyat Sumba untuk saya,”kata Refafi.

Menurut dia, ada beberapa figure yang layak maju jadi calon Bupati Sumba Timur di Pilkada 2010 nanti. Diantaranya Mathius Kitu kami dari Partai Hanura juga ikut mengusungnya menjadi Calon Bupati Sumba Timur. Kalaupun itu meleset maka figur lainnya yaitu Sekda Sumba Timur. “Jadi ada dua figure ini yang mau kita dorong ke kursi Calon Bupati Sumba Timur. Dengan partai pengusungnya adalah Partai Hanura dan PKB serta beberapa Parpol lainnya. Sedangkan saya sudah berkomitmen untuk tidak mau maju di Pilkada Sumba Timur,”tegasnya.

Digadang Jadi Bacawalikota atau Cawagub

Tidak berbeda dengan Refafi Gah, anggota DPRD NTT yang satu ini juga mulai viral digadang jadi bakal calon Walikota (Bacawali) Kupang di Pilkada Kota Kupang tahun 2022. Dialah CHRIS Mboeik yang kini terlantik jadi Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT.

Gambar kiri CHRIS Mboeik dan gambar kanan Chris pose bersama usai pelantikan anggota DPRD Provinsi NTT periode 2019-2024, di gedung DPRD NTT Kupang Selasa, 03 September 2019. Doc. CNC/marthen radja.

Politisi muda dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) ini bahkan digadang jadi Calon Wakil Gubernur NTT. Konon kabarnya bila Gubernur NTT VIKTOR Bungtilu Laiskodat dipilih Presiden RI, Joko Widodo (JOKOWI) jadi Menteri Kabinet maka posisi JOSEF A. Nae Soi yang saat ini Wakil Gubernur (Wagub) NTT maka praktis naik kursi Gubernur menggantikan Viktor. Dan saat itu pula Partai Nasdem akan menempatkan Chris Mboeik di posisi Wagub NTT.

“Ah tidak ada saya mau jadi Walikota Kupang. Itu momentum masih jauh apalagi dari partai saat ini sudah memberikan kepercayaan kepada saya jadi Wakil Ketua DPRD NTT.Yang jelas saya konsentrasi kerja dulu untuk rakyat di Dapil NTT Satu ini khususnya dan rakyat NTT umumnya,”ungkap Chris saat ditemui usai pelantikan anggota DPRD Provinsi NTTperiode 2019-2024, di gedung DPRD NTT Kupang Selasa, 03 September 2019.

Dalam rapat partai untuk penentuan posisi Wakil Ketua DPRD NTT, jelas Chris, tidak ada pembicaraan mengenai calon Walikota Kupang. “Tidak ada pembicaraan itu. Saya pribadi juga belum berniat jadi calon walikota”.

Setelah muncul teka-teki Chris Mboeik bakal Cawalikota Kupang, kini merebak lagi isu Calon Wagub NTT. Isu sedikit mengental karena hampir pasti paca Pelantikan Presiden RI, Jokowi menyusun struktur Kabinet Kerja Jilid Dua. Dan salah satu nama yang dirindukanya adalah Viktor Bungtilu Laiskdat (VBL) yang kini sedang duduk di kursi nomor satu NTT. Entah di posisi Menteri Desa Tertinggal atau Menteri Pariwisata, pokoknya ada calon Menteri Kabinet dari Indonesia Timur khususnya dari Provinsi NTT.

Terendus kabar kalau memposisikan VBL di kursi Menteri Kabinet Kerja Jilid Dua ini bukan kemauan Partai Nasdem. Tapi karena pilihan hati Presiden Jokowi.

“Iya sudah menjadi pilihan hati sang Presiden, siapa yang bisa tahan lagi. Kalau dari partai mungkin ada banyak pertimbangannya. Bahwa VBL baru setahun menjabat belum banyak berbuat untuk rakyat NTT. Pilih lain orang saja jadi menteri,”kata narasumber yang tidak ingin dipublikasi. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *