PENGAKUAN Hadmen Bikin LEBU Raya TIDAK ‘Bergerak Lebih Kedalam’

SEMUEL Haning, SH,HM. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Semboyan Duc In Altum – Bergerak lebih kedalam, bila disejajarkan dengan Kasus Korupsi Proyek NTT FAIR, tidak relevan untuk Frans Lebu Raya. Karena sebagaimana fakta-fakta sidang sebelumnya soal fee proyek, dari pengakuan para saksi yang ada sangat tidak mendukung untuk menghantar Frans Lebu Raya (FLR) bergerak lebih kedalam. Atau dengan kata lain tidak bisa  menaikkan status FLR dari Saksi ke status Tersangka

Citra-News.Com, KUPANG – SIDANG KASUS korupsi proyek pembangunan gedung pameran NTT Fair mulai menepi. Soal uang fee proyek yang diakui Yuli Afra dikirim ke Frans Lebu Raya, tidak memiliki bukti hukum.

Ini dipertegas lagi oleh pegakuan Hadmen Puri (HP), kalau dirinya tidak transfer uang ke Frans Lebu Raya. Tapi ia mentransfer uang fee proyek itu ke Yuli Afra (YA). Bukankah keterangan model ini Lebu Raya bisa selamat dari jeratan hukum?

Samuel Haning, SH,MH-Kuasa Hukum Ir.Hadmen Puri menyebut keterangan Yuli Afra dalam persidangan yang digelar pekan lalu perihal uang fee proyek, sangat tidak berdasar. Karena tidak didukung alat bukti yang kuat.

“Keterangan Yuli Afra (YA) yang mengaku mengantar uang ke mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat persidangan itu tidak mendasar. Bahkan lemah pembuktian hukumnya karena tidak didukung alat bukti lain.

Pantauan citra-news.com pada Jumat 15 November 2019,  saat sidang lanjutan kasus korupsi proyek NTT Fair itu, JPU (Jaksa Penuntut Umum) menghadirkan Yuli dan terdakwa lain diantaranya Donna Febiola Toh. Yuli Afra  sebagai saksi mahkota untuk terdakwa Ir. Hadmen Puri.

Yuli Afra mengaku dia dua kali antar uang, kata Haning. Tetapi tidak ada saksi yang melihat. Tidak ada saksi lain juga yang melihat bahawa Lebu Raya terima uang.

Dia menuturkan, kliennya (Hadmen Puri, red) mengaku dia tidak menyerahkan uang ke Frans Lebu Raya yang adalah Gubernur NTT saat itu. Uang tersebut diberikan ke Yulia Afra melalui transferan sesuai permintaan Yulia Afra.

“Klien saya transfer uang sesuai permintaan Yulia Afra yang meminta fee 2,5 persen. Bukan permintaan Frans Lebu Raya. Sesuai fakta persidangan, penyidik tidak punya cukup bukti menetapkan Lebu Raya sebagai tersangka (TSK),”tegas Haning.

Menurut Komisaris Utama PT FLobamora ini, dalam sidang jaksa tidak pernah ajukan bukti transfer untuk Frans Lebu Raya. Hanya ada bukti untuk Yulia Afra. Silahkan saja jaksa bicara tetapi resikonya harus dipikirkan. Haning berharap, saksi-saksi dapat memberi keterangan yang jujur agar bisa mengungkap pelaku lain.

Duc In Altum TIDAK Untuk Lebu Raya

Semboyan Duc In Altum atau Bergerak lebih kedalam, bila disejajarkan dalam Kasus Korupsi proyek NTT Fair, tidak relevan untuk Frans Lebu Raya. Karena sebagaimana fakta-fakta sidang sebelumnya soal fee proyek, dari pengakuan para saksi yang ada sangat tidak mendukung untuk menghantar Frans Lebu Raya (FLR) bergerak lebih kedalam. Atau dengan kata lain tidak bisa  menaikkan status FLR dari Saksi ke status Tersangka.

Pandangan Samuel Haning soal fee proyek yang diakui Yuli Afra, bahwa dia kasih ke FLR sangat tidak berdasar. Lantaran tidak didukung bukti-bukti lain. Hal senada juga dikatakan, pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr. Karolus Kopong Medan, SH., M.Hum. Kopong mengatakan, tidak ada bukti hukum yang kuat untuk menjerat mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek NTT Fair.

Drs. FRANS Lebu Raya (kiri). Gambar kanan: Terdakwa Yuli Afra (rompi orange) saat sidang perkara korupsi NTT Fair di Pengadilan Tipikor Kelas IA Kupang. D0c.CNC/marthen radja-Citra News.

Menurutnya, keterangan terdakwa Yulia Afra yang menyeret nama mantan Gubernur NTT yang sejak awal kasus ini mencuat sebagai orang yang ikut terlibat dalam kasus tersebut, justru makin tidak terbukti.

“Berbagai keterangan yang terungkap selama persidangan memperlihatkan bahwa tidak cukup bukti untuk menjadikan Frans Lebu Raya mantan Gubernur NTT dua periode itu sebagai tersangka. Sekalipun dalam sidang terdakwa Yuli Afra masih mengungkapkan bahwa ia beberapa kali menyerahkan fee proyek NTT Fair kepada Lebu Raya baik melalui ajudan maupun menyerahkan sendiri di ruangan kerja gubernur,”kata Kopong.

Menurut Kopong, keterangan terdakwa Yuli Afra tersebut tentunya tidak serta-merta memiliki nilai pembuktian atas kasus korupsi NTT Fair. Keterangan yang demikian itu baru bisa bernilai pembuktian, ketika keterangan itu didukung dan memiliki keterkaitan yang erat dengan alat bukti yang lain, seperti keterangan terdakwa lain, keterangan para saksi, alat bukti surat, dan sebagainya.

“Majelis hakim tentunya tidak percaya begitu saja dengan keterangan terdakwa Yuli Afra tesebut. Apalagi keterangannya itu tidak didukung oleh bukti petunjuk lain untuk membenarkan pemberian fee kepada mantan gubernur FLR itu sungguh benar adanya. Misalnya, saat memberikan fee itu disaksikan oleh orang lain, ada namanya terdaftar di buku tamu saat penyerahan fee, ada bukti kwitansi, dan sebagainya,”ujarnya kepada wartawan.

Keterangan Yuli Afra di persidangan bahwa Lebu Raya sempat berulang-ulang menyampaikan terima kasih atas pemberian fee proyek tersebut, tidak memiliki bukti petunjuk yang bisa digunakan untuk meyakinkan majelis hakim bahwa benar Lebu Raya menyampaikan hal itu kepada Yuli Afra.

Bahkan sangat mengherankan ketika (Yuli Afra mantan Kadis Perakim Prov.NTT) tersebut tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah uang yang sudah diserahkan kepada FLR. Dia (Yuli Afra, red) bahkan hanya memperkirakan saja jumlah uang yang diberikan kepada FLR kurang lebih diatas Rp 100 juta.

“Keterangan terdakwa Yuli Afra tersebut patut diragukan kebenarannya. Karena selain sering berubah-ubah atau tidak konsisten tetapi juga tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Akibatnya, banyak keterangan dari terdakwa Yuli Afra dalam perspektif hukum acara pidana tidak bernilai pembuktian. Hal ini berarti, keterangannya itu tidak dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu peristiwa hukum,”tegasnya. +++ tim/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *