UNIK, Dinas LHK TTU Bangun RUMAH Diatas POHON

Membangun para-para atau gubuk kecil di atas pohon adalah hal biasa. Tapi membangun rumah yang dilengkapi dengan jalan akses berupa jembatan dan aula pertemuan adalah sesuatu yang unik dan aneh.

Citra-News.Com, KUPANG – DINAS KEHUTANAN atau nomenklatur sekarang dengan nama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata memiliki SDM Unggul yang patut diacungi jempol. Khususnya UPT KPH Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang saat ini tengah membangun rumah diatas pohon. Kreatif bukan?

“Para staf dinas kami ini tidak saja rumah yang mereka bangun. Tapi rumah dilengkapi aula pertemuan sekaligus jalan akses menuju satu rumah ke rumah yang lain diantara pepohonan di hutan kawasan Oeluan Kabupaten TTU. Sebagai kepala dinas saya bangga karena sudah mampu membuat inovasi-inovasi baru mendukung visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera,”ungkap Ir. FERDY J Kapitan, M.Si ketika diwawancarai awak citra-news.com di Kupang, Rabu 17 Desember 2019.

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si (kiri) dalam ekspresi ‘Lima Jari’ simbol Skema PS didampingi Kepala UPT KPH Kabupaten Sumba Barat Daya (kanan) saat berada di Kupang, Rabu 17 Desember 2019. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Dalam kaitannya dengan fungsi perhutanan social, kata Ferdy, di satu sisi upaya pelestarianya terus-menerus dilakukan. Namun di sisi lain kawasan hutan yang ada dimanfaatkan sebagai obyek tujuan wisata (destinasi) alam.

“Sebagai obyek wisata tentunya dikemas dengan berbagai rupa agar bisa menarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Karena bagi Wisatawan tertentu lebih tertarik dengan keindahan alam berupa flora dan fauna yang ada di dalamnya. Apalagi di dalam kawasan hutan ada air terjun atau obyek menarik lainnya,”tuturnya.

Dia menambahkan, dalam skema Perhutanan Sosial (PS) ada lima hal yang terus-menerus disosialisasikan. Kelima skema PS tersebut adalah Hutan Kemasyarakatan (HKM), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Adat, Pengelolaan Kawasan Hutan DAS (daerah aliran sungai), dan Kemitraan Kehutanan.

“Kelima skema yang ada tersebut berkaitan dengan jasa lingkungan (Jasling). Sejauhmana pemanfaatan Jasling  untuk kepentingan masyarakat. Karena fungsi hutan adalah untuk kebutuhan masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan air bersih yang merupakan kebutuhan vital ini, tidak mungkin terjangkau kalau tanpa hutan. Tiada kehidupan tanpa air dan tidak air tanpa kehidupan,”ungkap Ferdy.

Hal tersebut dipertegas lagi oleh Kepala UPT KPH TTU, DEDDY Rodja, S.Hut. Menurut Deddy pihaknya memanfaatkan kawasan hutan OELUAN lebih maksimal. Di area kawasan ini tidak saja menjadi pusat pembibitan ikan tetapi juga dimanfaatkan untuk menjadi tempat wisata dan ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

“Kami saat ini sedang membangun kawasan hutan Oeluan sebagai kawasan berbasis pariwisata. Kalau selama ini baru sebatas kolam ikan dan tempat pemandian yang ala kadarnya, saat ini kami bikin lebih wah lagi,”ungkap Deddy.

Dia menuturkan di obyek air terjun Oeluan itu kami bangun lopo-lopo dan rumah besar di atas pohon lengkap dengan aula atau ruang pertemuan. Jalan akses menuju rumah kami bangun semacam jembatan berbahan kayu.

“Pokoknya semua infrastruktur terbangun disana itu berbahan kayu. Yang kami ambil dari pohon kayu yang sudah tumbang di area kawasan. Daripada dibiarkan lapuk atau diambil secara illegal oleh oknum tertentu dan dijual bebas diluar sana. Lebih pantas kami ambil dan gunakan untuk mendatangkan PAD bagi daerah,”tandasnya.

Tujuan dibangun obyek wisata berbasis kehutanan ini dilatari fungsi perhutanan social bagi masyarakat. Mengambil bagian dari kegiatan program kerja lingkungan hidup dan kehutanan, kami lalu berinisiasi membangun sesuatu di kawasan Oeluan yang berdampak bagi PAD setempat.

Dari sisi letak, lanjut Dedy, sangat strategis. Apalagi Kefamenanu TTU menjadi wilayah transit bagi warga negara Timor Leste untuk sesuatu keperluan di Kupang ibukota Provinsi NTT-Indonesia. Sebagai wilayah transit tentunya menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan usaha ekonominya.

“Dalam maket pengembangan kawasan hutan Oeluan, Dinas LHK Provinsi NTT selain upaya pelestariannya juga pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan ekowisata. Oleh karena itu di dalam kawasan hutan Oeluan kami kembangkan wisata alam dan di depan jalan negara kami bangun lapak-lapak untuk disewakan masyarakat berjualan. Alur pikir ini coba saya diskusikan dengan pak Kadis LHK NTT dan pada prinsipnya beliau sangat setuju. Setelah beliau setuju danb kami langsung action,”beber Deddy.

Menjawab soal sumber pembiayannya, pria asal Kabupaten Ngada ini mengatakan, dengan keterbatasan dana APBD dalam pengembangan kawasan Oeluan maka pihaknya berinisiatif membangun organisasi internal Rimbawan dalam bentuk Koperasi. Jika saja wadah koperasi ini berkembang baru dibicarakan soal hak anggota koperasi.

‘Ide saya membangun Koperasi Rimbawan TTU ini ternyata disambut baik oleh staf dinas termasuk polisi hutan. Jadi anggota koperasi ini adalah orang-orang dinas/UPT KPH. Termasuk yang sudah pensiun dan berminat bergabung kami nampung diwadah Koperasi Rimbawan ini. Karena prospek ke depannya cukup menjanjikan,”katanya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *