Pemprov Perlu KAJI Lagi Soal Sumbangan PAD dari SMA/SMK Negeri

SILAS Kase, S,Pd.MT, saat diwawancarai di SMKN 2 Kupang, Timor Provinsi NTT, Jumat 31 Januari 2020. Doc.CNC/marthen radja-Citra News.

Sudahkan Pemprov NTT beri kontribusi agar pantas meminta sumbangan dari SMA/SMK Negeri? Silas Kase : “Sekolah akan beri sumbangan untuk PAD atas permintaan pemerintah tapi mari kita dduk baomong dulu…”

Citra-News.Com, KUPANG – HARAPAN bernada permintaan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) agar setiap SMA/SMK Negeri memberikan beberapa persen hasil usahanya sebagai salah satu sumber PAD provinsi. Permintaaan ini memantik sejumlah tanggapan bahkan komentar miring dari sejumlah kepala sekolah.

Kepala SMKN 2 Kupang, SILAS Kase, S.Pd.MT menyatakan pada prinsipnya sekolah asuhannya siap memberikan sumbangan untuk menambah pundi-pundi PAD provinsi. Sebagai lembaga pendidikan yang menjadi kewenangan urusan pemerintah provinsi, adalah wajib hukumnya untuk mengamankan setiap kebijakan pemerintah Provinsi NTT.

“SMKN 2 Kupang sebagai salah satu lembaga pendidikan dibawah kewenangan Pemprov NTT, kami tentunya siap memberikan sumbangan untuk menambah PAD kita. Tapi sebelumnya kita harus duduk baomong  (duduk berdiskusi dalam rapat bersama,red). Dari Dinas P dan K provinsi kami berharap memiliki data sekolah potensial untuk sumbangan PAD dimaksud. Dari data ini kemudian dibawa ke forum rapat bersama para kepala sekolah untuk kita sama-sama membedahnya lebih obyektif,”demikian Kase saat ditemui di Kupang, Jumat, 31 Januari 2020.

Dia mengakui, semua SMKN yang ada di Provinsi NTT miliki keunggulan-keunggulan masing-masing. SMKN 2 Kupang menurut pandangan orang luar adalah sekolah besar yang memiliki kelengkapan fasilitas dan sarpras (sarana prasarana). Namun secara internal SMKN 2 Kupang lebih pada pelayanan jasa dan bukan profit.

“Sekolah kita ini lebih berorientasi pada jasa. Kita bukan sekolah yang berorientasi pada profit seperti SMKN lainnya. Meskipun memiliki kelengkapan fasilitas dan Sarpras yang memadai dengan harga ratusan juta. Akan tetapi biaya operasionalnya juga tinggi termasuk pemeliharaan dan lain-lain. Yang kita sisipkan dari dana BOS. Dan ini semua untuk kebutuhan praktek siswa yang pada gilirannya menghasilkan output yang  memiliki skill mumpuni  di dunia kerja nantinya,”beber Kase.

SMKN 2 Kupang punya mesin bubut, lanjut dia, tapi siapa yang mau datang service kendaraannya di sekolah ini. Sehingga ada pemasukan untuk sekolah. Orang akan lari ke bengkel mobil. Demikian halnya untuk Kompetensi Keahlian (Komli) Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), pihak siapa yang datang minta siswa instalasi di rumah atau gedung. Sehingga hasil sewaan itu kita bisa sisip untuk kebuthan operasional dan sumbangan PAD.

Sangat berbeda dengan SMKN 1 Kupang ada usaha mini market Alfa Mart, ada kantin, sewa gedung, dan lain-lain. Atau di SMKN 3  Kupang ada usaha tata boga, tata busana, perhotelan, salon kecantikan, dan lain-lain dimana jasa siswa dan guru dibayar. Nah, mereka ini berorientasi profit (keuntungan) sehingga pantas kalau dimintai sumbangan PAD.

Perlu Ada Instruksi atau Pergub

“Saya belum bisa katakan SMKN 2 Kupang sanggup berapa nilai uang untuk sumbangan PAD. Nanti saatnya rapat bersama kepala dinas kita bicarakan. Mestinya Pemprov beri kontribusi entah berupa instruksi atau aturan yang mengikat. Bahwa semua kendaraan dinas tempat service di SMKN 2 Kupang. Nah kalau ada instruksi seperti ini baru balanca, sekolah punya rasa tanggung jawab terhadap PAD. Tapi kalau main todong-todong  begini iya repot juga. Kita ma ambil biaya darimana untuk sumbang ke PAD provinsi,”tegas Kase.

Sembari menambahkan, kalau aturan berupa Perda atau Pergub kemungkinan jalan panjang harus melalui kajian DPR. Tapi Instruksi Gubernur hampir pasti public atau elemen yang berkepentingan akan mengikuti arahan pemerintah. Dan sekolah ada ruang pendapatan (income) untuk menambah pundi-pundi PAD provinsi.

Menjawab keunggulan yang dimiliki SMKN 2 Kupang, sebut Kase, ada 8 (delapan) Program Keahlian. Dengan didalamnya terdapat 12 kompetensi keahlian (Komli). Kedelapan keahlian tersebut masing-masing, Teknik Konstruski dan Properti (TKP); Program Keahlian Geomatika; Program Keahlian Ketenagalistrikan; Elektronika; Teknik Permesinan; Teknik Otomotif; Teknik Informasi dan Komunikasi (TIK): dan Teknik Energi terbarukan  dengan hanya satu Komli didalamnya yakni Teknik Energi Surya Hidro dan Angin (TESHA). +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *