SEMAU Pilot Project Budidaya Ikan Teknologi Kerambah Bulat

GANEF Wurgianto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT. Doc. marthwn radja/citra-news.com

Ganef: Wilayah perairan laut di Provinsi NTT sangat potensial untuk pengembangbiakan semua jenis ikan.

Citra-News-Com, KUPANG – UPAYA PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat NTT dilakukan di semua sektor. Diantaranya melalui program dan kegiatan di sektor kelautan dan perikanan.

Demikian Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Ganef Wurgianto saat diwawancarai awak portal berita citra-news.com di Kupang, Rabu pekan lalu.

Menurut dia,  perairan di Provinsi NTT sangat potensial untuk pengembangbiakan semua jenis ikan. Entah secara alamiah yakni oleh akibat migrasi ikan. Maupun melalui teknologi budidaya ikan di air tawar juga air asin, ”

Sebagai dinas teknis dalam giat program pembangunan ekonomi NTT, Ganef mengatakan pihaknya telah beriniaiasi melakukan budidaya ikan kerapu dan ikan kakap melalui teknologi kerambah bulat.

“Untuk kerambah model bulat ini kita uji coba di perairan Pulau Semau. Sebagai pilot project sudah tentu kita lakukan yang terbaik untuk menjadi contoh integrasi program budidaya ikan kakap san ikan kerapu di NTT, ” terang Ganef.

Bidikan kita memilih dua jenis ikan kakap dan ikan kerapu ini, lanjut dia, karena secara ekonomis sangat menguntungkan masyarakat tani dan nelayan. Disamping menjadi sumber baru peningkatan PAD.

Adapun pemilihan lokasi budidaya kedua jenis ikan tersebut adalah di perairan Kabupaten Rote Ndao tepatnya di Teluk Mulut Seribu. Berikut, di Kabupaten Ngada yakni di Mbai. tepatnya di Wae Kelambu Riung. Serta budidaya ikan kerapu dan ikan kakap di perairan Pulau Semau.

Khususnya di Pualu Semau, lanjut dia, ada 9 (sembilan) kerambah dengan jumlah masing-masing kerambah 25.000 ekor. Prosentase untuk tingkat hidup 85 persen. Dan diperkirakan hasil panen dari total 9 kerambah sebanyak 225.000 ekor.

“Untuk model kerambah pak Gubernur minta bentuknya bulat. Kalau bentuk kotak nanti saat pergerakan ikan banyak yang terluka dan mati. Sehingga kita buat kerambah berbentuk bulat dengan diameter 10 meter dan kedalaman 8 meter, “jelas Ganef.

Jual Ikan Hidup ke Opteker

Menjawab soal pemasaran, jelas Ganef, hasil produksi ikan kerapu dan ikan kakap si tiga titik sebar, dijual oleh kelompok masyarakat ke opteker.

“Optekernya dari Jakarta. Mereka menampung ikan hidup untuk diekspor ke luar negeri,” kata Ganef dengan tidak menyebut nama optekernya.

Selain untuk ekspor juga untuk memenuhi permintaan hotel-hotel dan di pasar lokal daerah. Seperti halnya prosuksi ikan kakap dan ikan kerapu dari Waekelambu untuk penuhi permintaan hotel-hotel di Labuan Bajo dan di Flores umumnya. Begitupun hasil dari Mulut Seribu dan dari Pulau Semau Desa Huilelo sebagiannya juga untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Ganef menambahkan, dari segi pendapatan daerah cukup signifikan dari hasil pemasaran kedua jenis ikan ini.

“Bisa dibayangkan untuk Pulau Semau saja dengan hasil panen 225.000 ekor maka pendapatan masyarakat kurang lebih 5 miliar untuk sekali panen. Melalui sistim budidaya ikan di kerambah, saya yakin akan bisa mendongkrak ekonomi dan pendapatan perkapita masyarakat di daerah ini,”kata Ganef. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *