Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

KEMENKOPUKM Gelar Vocational Bagi Pelaku UMKM Pengolahan HASIL Ternak

CitraNews

Nah, untuk dapat masuk kedalam rantai nilai global (global chain value) perlu dilaksanakannya pengembangan UMKM melalui pendekatan klaster, tuturnya.

Dia menambahkan, materi yang disampaikan oleh narasumber/fasilitator yang berkompeten di bidangnya ini antara lain terkait pengenalan umum tentang daging, penanganan karkas/daging dengan teknik pelayuan dan kulaitas, fermentasi, kerusahan daging, bahan tambahan pangan dalam daging/selongsong seperti meat curing, selain itu metode pelatihan dengan melakukan praktek teknik pengolahan daring sapi seperti pengeringan dan pengasapan, refrigrasi dan pembekuan, pengolahan kulit untuk pembuatan kerupuk, pengolahan daging menjadi bakso/sosis/abon/dendeng/corned beef dan burger.

Terkait pendekatan klaster, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Koperasi dan UKM Propinsi NTT, ADHY Endeson Mandala mengatakan, Factory Sharing dibangun di Sumlili Kabupaten Kupang. Dengan model pengeloaan berbasis Koperasi dan UKM.

Baca Juga :  DRAINSE Modern Menyongsong KUPANG 2030, Warisan NYATA Kepemimpinan CHRISTIAN Widodo dan SERENA Francis

Adhy menjelaskan, ada dua hal yang berkaitan dengan Factory Sharing yang dibangun di Sumlili Kabupaten Kupang. Pertama, dari aspek pembangunan fisiknya, Factory Sharing mirip-mirip dengan rumah pemotongan hewan (RPH) seperti di Oeba Kota Kupang. Akan tetapi Factory Sharing dalam kategori usaha berskala besar.

Dikatakan berskala besar, karena usahanya lintas sektor, tegas Adhy. Jika kita berbicara soal pengolahan hasil ternak sapi di Factory Sharing maka tidak terlepas soal bagaimana kesiapan pakan, pembibitan, penggemukan, penjagalan (pemotongan) pengolahan hasil, hingga pemasarannya.

Baca Juga :  Penanganan JALAN Pasca BENCANA Tidak Mengenal STATUS Jalan

“Jadi pengelolaan Fatory Sharing harus kerja kolaboratif dan lintas sektor. Mulai dari sektor hulu hingga hilir. Dari penyiapan pakan, pembibitan, penggemukan, penjagalan, pengolahan daging, pengepakan, hingga pemasaran hasil. Bahkan dalam kawaaan Favyory Sharing dilengkapi dengan Pos Keswan (Pos kesehatan hewan),” beber Adhy.

Dari sisi fisiknya Sumlili sebagai daerah intinya, Sementara sebagai penyanggahnya ada di Kabupaten Belu, Malaka, Belu dan Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kota Kupang.

Hal kedua, lanjut dia, dari aspek pengelolaannya yakni koperasi dan UKM, dalam mana menjadi tugas dan fungsi (Tusi) Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT.
Untuk itu melalui Dinas Kopnakertrans sebagai leading project maka menggandeng Kemenkopukm untuk pelatihan ketrampilan (vocational) Pengolahan Hasil Ternak Sapi.

Baca Juga :  Terkenal SEMRAWUT Bupati ROBY Merubah TPI Jadi PPT

Menjawab jumlah peserta, sebut Adhy, giat vocational ini diikuti oleh 30 orang pegiat UMKM. Mereka diberikan pembekalan oleh narasumber soal teknik pengolahan hasil ternak sapi.

Adhy berharap, dalam mendukung program Rumah Produksi Bersama ini, diperlukan kerja bersama yang saling sinergis dan kolaborasi lintas sektor.

“Untuk menjawabi tantangan dalam pengembangan UMKM maka kita harus bekerja kolaboratif. Baik dari dinas pertanian, peternakan, perindutrian dan perdagangan, maupun sector lainnya. Termasuk perbankan dalam hal permodalan,” tuturnya. +++ marthen/citra-news.com