Menurut Espedito, festival ini akan menjadi ajang pertukaran budaya antara kedua negara Timir Leste dan Indonesia. Tujuannya mempererat tali persaudaraan masyarakat lintas batas, khususnya warga Timor Leste yang menetap di Indonesia, termasuk di Kota Kupang.
Sementara itu, Atase Pendidikan, Gregorio do Santos menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Kupang dapat memberikan dukungan kerjasama dalam hal kemudahan pengurusan visa bagi pelajar Timor Leste yang menempuh pendidikan di Kupang.
Dia menyebutkan terdapat 383 mahasiswa asal Timor Leste yang sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Kota Kupang. Dan kerjasama serupa juga dapat berlaku timbal balik bagi pelajar Indonesia yang melanjutkan studi di Negara Timor Leste.

“Harapan kami, Pemerintah Kota Kupang dapat mencatat dan mengkoordinasikan hal ini dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk mempermudah proses visa. Hal ini penting untuk mendorong pendidikan lintas negara sekaligus mencegah pelajar datang secara ilegal yang bisa merugikan mereka dan kedua negara,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Serena Francis, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan inisiatif kerja sama dari pihak Konsulat RDTL.
“Pemerintah Kota Kupang menyambut baik rencana pengembangan kerja sama antarwilayah, bahkan kemungkinan pembentukan hubungan Sister City yang dapat membuka peluang kerja sama ekonomi, promosi budaya, dan penguatan hubungan antar masyarakat,” jelas Serena.
Terkait permohonan dukungan dalam bidang pendidikan, Serena menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang akan berkoordinasi dengan pihak imigrasi dan instansi terkait di Provinsi NTT, mengingat kewenangan untuk pendidikan tingkat SMA dan perguruan tinggi berada di ranah Pemerintah Provinsi.













