Di Desa Nobi-Nobi, perubahan itu sedang dicoba dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: Emping Jagung. Bupati Lioe pun angkat bicara kalau selama ini masyarakat TTS sebenarnya memiliki banyak produk unggulan lokal, tetapi selalu terbentur persoalan pemasaran.
Citra News.Com, SOE – BANYAK desa di Nusa Tenggara Timur (NTT), memproduksi jagung selama puluhan tahun hanya berhenti sebagai hasil panen murah.
Petani menanam, memanen, lalu menjualnya dalam bentuk mentah dengan keuntungan tipis. Nilai tambah lebih banyak dinikmati pasar, sementara desa tetap berjalan lambat dalam lingkaran ekonomi subsisten.
Namun arah itu mulai diubah. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menjadikan Desa Nobi-Nobi Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), model pengembangan ekonomi desa berbasis One Village One Product (OVOP) melalui produksi emping jagung bernilai jual tinggi.
Gubernur Melky Laka Lena tidak sekadar datang membawa bantuan alat produksi. Ia membawa sebuah gagasan besar: Desa tidak boleh lagi hanya menjadi penghasil bahan mentah.
“Jangan jual jagung mentah lagi tetapi harus naik kelas menjadi pusat produk olahan dan dikemas sehingga bernilai ekonomi tinggi”, tegasnya.
Pesan itu ditegaskan Gubernur Melky saat menutup pelatihan dan penyerahan bantuan alat produksi emping jagung yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi NTT, di Desa Nobi-Nobi, Kamis (7/5/2026).
Di hadapan kelompok UMKM desa, Gubernur Melky berbicara tentang perubahan cara berpikir pembangunan desa. Lewat program OVOP, emping jagung kini dipilih menjadi identitas ekonomi baru Desa Nobi-Nobi.
“Kita bantu mulai dari pelatihan, pemberian alat, sampai pengemasan supaya produk masyarakat punya nilai jual yang lebih bagus dan menguntungkan masyarakat yang memproduksi”, ujarnya.
Pernyataan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan lama ekonomi NTT: daerah kaya hasil pertanian, tetapi miskin pada hilirisasi produk.
Jagung Simbol Hidup
Di NTT, jagung bukan sekadar komoditas pangan. Jagung adalah simbol hidup masyarakat pedesaan, terutama di wilayah Timor. Tetapi selama bertahun-tahun, jagung hanya dipasarkan dalam bentuk curah dengan harga rendah.
Illustrasi Panen Raya Jagung di Kabupaten Kupang. Doc. istimewa
Guberbur Melky melihat persoalan utamanya bukan pada produksi, melainkan pada nilai tambah. Ia mencontohkan jagung yang sebelumnya dijual sekitar Rp2.000 bisa meningkat nilainya menjadi Rp5.000 hanya karena diolah dan dikemas lebih baik lalu dipasarkan secara menarik.
Bagi pemerintah provinsi, perubahan kecil pada kemasan ternyata bisa berarti besar bagi ekonomi desa. Dan logika pembangunan yang kini dibangun Pemprov NTT bukan lagi sekadar “menanam lebih banyak”, melainkan “mengolah lebih cerdas”.













