Untuk itu pihaknya berencana merenovasi Taman Nostagia (Tamnos) jadi panggung bagi semua kalangan berperform (berekspresi) di dalamnya. Apakah masuk di dalamnya UMKM atau kerajinan tenun ikat, pameran budaya, fashion show dan main musik bagi kalangan anak muda, atau jadi area berekreasi namun harus dijaga kebersihannya.
Karena melalui event-event seperti ini, tegas dia, menjadi kekuatan ekonomi bagi warga ibukota. Kita bisa lihat adanya Pawai Paskah kemarin (Senin 21/4, red), ternyata keunggulan kita ada di budaya. Dan kita bisa gabungkan dengan iman dan pariwisata sehingga jadi Wisata Religi.
Bayangkan setiap tahun orang berbondong datang ke Kota Kupang
menyaksikan Pawai Paskah. Hal ini tentunya menumbuhkan ekonomi rakyat. Kemarin itu terdaftar 102 UMK dan tidak terdafar ratusan jumlahnya. Sehingga ada sekitar 300-an lapak UMKM yang mengisi momentum Pawai Paskah.
“Nah kalau kita sering lakukan pameran budaya, seperti nanti kita lakukan di Tamnos, sudah tentu ekonomi berputar bukan?”, ujarnya.
Adanya gelar budaya seperti yang dilakukan di Kelurahan Oebufu ini, lanjut dia, bisa memantik usaha ekonomi rakyat sekitar. Dan akan membangkitkan kreativitas masyarakat dalam berusaha. Prinsipnya dimana orang-orang berkumpul disitu ekonomi berputar.
Terpantau awak Portal Berita citra-news.com, acara pembukaan pentas budaya tersebut ditandai dengan pemukulan gong sebanyak lima kali oleh Wali Kota Kupang dt. Christian Widodo.
Saat tiba sang Walikota dan Ketua DPRD Kota Kupang, Richard Elvis Odja, Asisten I Jefry Pelt, serta beberapa pejabat dikalungi kain selendang tenun ikat. Para pejabat ini disambut grup marching band, sapaan adat Timor beriring bunyi dawai gong yang ditabuh kelompok Ema-ema.
Walikota Christian dan Richard Odja serta sejumlah pejabat tampak meliuk indah dalam Tarian Tebe setelah berkeliling ke semua lapak sambil belanja hasil UMKM buah karya warga lokal. +++ marthen/CNC












