Selain membahas peemasalahan adat budaya , tambah Bupati Valens, saat ini pihaknya telah mengumpulkan para pemangku adat untuk membahas langkah konkret tersebut. Langkah ini juga sejalan dengan target penurunan angka stunting di TTU yang saat ini berada pada posisi keempat tertinggi di Provinsi NTT, dengan prevelensi mencapai 40,7 persen.
“Pemerintah menargetkan penurunan stunting sebesar dua persen per tahun hingga mencapai 32,5 persen pada 2029. Bahkan angka itu bisa ditekan hingga 20 persen. Target penurunan dua persen per tahun itu tidak muluk-muluk. Tapi kalau bisa sampai 20 persen, itu lebih baik,” ujarnya.
Bupati juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa Universitas Timor (Unimor) yang telah melakukan penelitian dan menemukan bahwa adat istiadat memang menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam upaya penurunan stunting di TTU.
Sebagai bagian dari upaya reformasi layanan kesehatan, saat ini sudah ada empat Puskesmas di TTU yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“BLUD yang ada diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi pelayanan, termasuk penanganan stunting terutama anak usia emas 0-5 tahun,” pungkasnya. +++ marthen/hiro













