Karena berbicara tentang masalah stunting dan gizi anak, tambah dia, ini sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Secara data angka stunting di NTT masih cukup tinggi, dan jika tidak ada intervensi langsung dari hulu ke hilir, maka kualitas generasi penerus akan terus tergerus.
“Program MBG dinilai sebagai salah satu cara konkret dan sistematis untuk memutus mata rantai gizi buruk sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah,” imbuh Sekretaris DPW Gerindra NTT.
Menurutnya, Gizi anak perlu diperbaiki sehingga anak di NTT nanti, bisa tumbuh dengan kuat dan bisa bersaing di tingkat nasional. Program MBG ini dievaluasi setiap hari dari badan gizi nasional.
Fernando mengakui MBG ini adalah program baru. Dari data yang kita terima sejak kemarin sampai hari ini sudah 135 ribu anak yang menerima manfaat ini. Kalau ada masalah harus kita perbaiki dan evaluasi setiap hari, dan badan gizi melakukan itu dan hal ini sudah disampaikan kepala badan gizi nasional yang melakukan perbaiki terhadap masalah-masalah yang ditemukan.
Pemeriksaan Sampel Belum Selesai
Menyikapi kasus siswa yang ditengarai keracunan MBG, Fernando mengatakan, DPRD NTT telah mengadakan rapat dengan Badan POM, Badan Gizi Nasional Perwakilan Regional NTT.
Menurut dia, dalam rapat itu Badan POM sampaikan bahwa hasil pemeriksaan sampel terhadap siswa yang disebut-sebut keracunan MBG itu belum selesai. Proses pemeriksanannya membutuhkan waktu yang lama, karena untuk meneliti sampel itu harus diambil dari dapur ke dapur.













