Program “Sahabat Parit” melibatkan pelajar dan komunitas lokal untuk merawat saluran air dan menanam pohon di area resapan. Kolaborasi ini menjadikan drainase bukan hanya urusan pemerintah, tetapi gerakan sosial bersama.
Sistem ini juga berfungsi sebagai pengelola air berkelanjutan. Air hujan ditampung untuk kebutuhan non-konsumsi seperti menyiram tanaman dan kebersihan kota. Konsep eco-drainage ini sejalan dengan semangat pembangunan hijau.
Kini, meski hujan deras mengguyur, kota tetap aman. Jalanan tidak lagi tergenang, dan warga merasa tenang. Kupang telah membuktikan diri sebagai kota yang tangguh iklim — siap menghadapi tantangan masa depan dengan teknologi dan kesadaran lingkungan yang seimbang.
Setiap hari ribuan langkah menginjak trotoar kota, ribuan kendaraan melintas di jalan utama, dan ribuan rumah bergantung pada sistem drainase yang baik.
Semua itu menjadi perhatian utama dalam penyusunan rencana tata ruang baru yang dirancang secara ilmiah dan partisipatif.
Saluran air yang tersambung rapi kini mencegah banjir meluap saat musim hujan. Trotoar yang mulus dan lebih lebar menghadirkan ruang aman bagi pejalan kaki.
Sementara lampu jalan yang semakin terang membuat aktivitas malam hari terasa nyaman tanpa rasa waswas. Keselamatan warga adalah prioritas. Ketika ruang kota tertata, masyarakat merasa dilindungi dalam setiap aktivitasnya. +++ marthen/advetorial












