Sebagai seorang dokter, Christian Widodo juga menyoroti dimensi kemanusiaan dalam praktik kedokteran. Dokter Christian Widodo menempatkan ilmu medis bukan semata-mata sebagai ilmu eksakta, tetapi juga sebagai seni yang menggabungkan pengetahuan, pengalaman, nurani, dan pengabdian.
Penekanan ini mengandung pesan bahwa kualitas dokter tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari sensitivitas moral dan empati terhadap pasien.
Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan dunia kesehatan saat ini, yang tidak hanya membutuhkan tenaga profesional terampil, tetapi juga pelayan publik yang berkarakter.
Dengan demikian, Fakultas Kedokteran UCB diharapkan menjadi ruang pembentukan kompetensi sekaligus karakter calon dokter.
Minim Tenaga Dokter
Dari sisi pemerintah provinsi, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melihat kehadiran Fakultas Kedokteran UCB sebagai jawaban atas kebutuhan daerah akan layanan kesehatan yang lebih berkualitas.
Selama ini, keterbatasan jumlah dokter, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih menjadi persoalan utama.
Gubernur Melky mengatakan, dengan bertambahnya institusi pendidikan kedokteran, baik negeri maupun swasta, pemerintah daerah berharap lahir lebih banyak dokter putra-putri daerah yang memiliki ikatan emosional dan komitmen untuk mengabdi di wilayahnya sendiri.
“Hal ini penting untuk mengurangi ketimpangan distribusi tenaga kesehatan yang selama ini lebih terkonsentrasi di perkotaan,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPD RI Ir. Abraham Paul Liyanto memberikan konteks nasional terhadap pendirian fakultas ini.












