Wakil Gubernur NTT, Johny Asadoma mengingatkan keberagaman yang dimiliki masyarakat NTT bukanlah perbedaan yang ……….
Citra News.Com, KUPANG – MALAM perlahan turun di ruas Jalan El Tari Kota Kupang, tepat di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT deretan lampion merah yang menggantung di sepanjang jalan berayun pelan tertiup angin laut Kupang.
Aroma makanan dari puluhan tenda UMKM bercampur dengan riuh tawa pengunjung yang masih memadati area festival. Walau seakan festival ini membungkus pesan Lampion Terakhir di Jalan El Tari Kota Kupang.
Di tengah suasana hangat itu, penutupan Kupang Lampion Street Market pada Minggu (8/3/2026) menjadi lebih dari sekadar akhir sebuah festival. Ia berubah menjadi simbol bagaimana ruang publik dapat menyatukan ekonomi, budaya, dan keberagaman dalam satu perayaan bersama.
Di panggung utama, Christian Widodo, Wali Kota Kupang, berdiri menyapa masyarakat yang hadir. Ia datang bukan hanya untuk menutup acara, tetapi juga untuk menyampaikan pesan tentang masa depan ekonomi kota yang bertumpu pada kekuatan usaha kecil.
“Selama tiga hari ini kegiatan Kupang Lampion Street Market telah menggerakkan ekonomi di Kota Kupang dan meningkatkan daya saing UMKM,” ujarnya disambut tepuk tangan pengunjung.
Festival yang berlangsung sejak 6 Maret itu menghadirkan 70 pelaku UMKM dengan beragam produk kuliner dan kerajinan. Hampir semua tenda dipadati pembeli sejak sore hingga malam hari.
Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang pemandangan ini bukan sekadar keramaian festival, melainkan gambaran nyata bagaimana ekonomi rakyat bergerak.
Walikota Christian menegaskan bahwa struktur ekonomi Kupang memang bertumpu pada sektor jasa dan perdagangan. Tidak banyak sumber daya alam yang menjadi andalan, sehingga UMKM menjadi motor utama penggerak ekonomi masyarakat.












