Di tengah dialog yang berlangsung hangat, suara Ketua Kelompok Tani Nonotasi, Monico Tnunay, mencerminkan realitas yang masih dihadapi petani.
Monico menyampaikan harapan akan pembangunan embung mini untuk mengatasi ketergantungan pada hujan. Bagi dia, ini sebuah kebutuhan sederhana namun sangat krusial.
Harapan itu langsung disambut oleh Bupati Kupang yang menyatakan kesiapan untuk membantu. Bahkan menjanjikan penurunan alat berat dalam waktu dekat, selama lahan yang disiapkan memenuhi syarat.
Menjelang akhir kegiatan, di antara deretan jagung yang siap diangkut, Gubernur Melky kembali mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir. Pesan lama tentang “tanam” yang pernah digaungkan, kini ia lengkapi dengan makna baru.
Bagi Gubernur Melky, masa depan pertanian tidak lagi cukup dengan menanam dan memanen. Ia mengajak petani untuk melangkah lebih jauh – mengolah, mengemas, dan menjual – dengan nilai yang lebih tinggi.
Ini sebuah “resep” pola atau siklus yang ia rangkum dalam semangat sederhana namun kuat : “Tapa Oke Ju” – Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual –
Menurut Gubernur Melky, pola ini secara ekonomi memberikan nilai tambah bagi para petani dalam meningkatkan usaha dan pendapatan keluarga. Sekaligus harapan akan kesejahteraan keluarga bisa terwujud.
Di ladang Nonotasi itu, senja perlahan turun. Namun semangat yang ditanam hari itu terasa seperti baru saja tumbuh dan siap dipanen pada musim yang akan datang. +++ marthen/*












