Kehadiran museum ini memperlihatkan bahwa Flores bukan hanya ruang hidup, tetapi juga ruang peradaban yang menyimpan jejak panjang sejarah manusia.
Bagi seorang kepala daerah, pemahaman terhadap warisan budaya seperti ini menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang berpijak pada identitas lokal.
Spiritualitas Global di Ritapiret
Agenda berikutnya membawa rombongan ke Ritapiret. Di sana rombongan disambut hangat oleh RD Mansur Ito. Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan keluarga berkesempatan berdoa di kamar yang menyimpan misteri yang pernah ditempati Paus Yohanes Paulus II.
Di kamar bersejarah itulah yang pernah ditempati Paus Yohanes Paulus II saat kunjungannya ke Indonesia pada 1989.
Tempat ini juga tersimpan Relikwi berupa tetesan darah Paus Yohanes Paulus II yang berkaitan dengan peristiwa penembakan (percobaan pembunuhan) Paus Yohanea Paulus II pada 13 Mei 1981 di Lapangan Basilika Santo Petrus, Roma.
Ruang ini menghadirkan dimensi spiritual global yang bertemu dengan konteks lokal—menghubungkan Flores dengan sejarah besar Gereja Katolik dunia.
Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan
Kunjungan ini ditutup dengan diskusi bersama pimpinan IFTK Ledalero, membahas pengembangan pendidikan, nilai kemanusiaan, dan kontribusi generasi muda bagi daerah.
Lebih dari sekadar rangkaian kegiatan, perjalanan ini menunjukkan bagaimana seorang pemimpin menapaki Tiga lapisan penting sekaligus. Yaitu Menghormati masa lalu melalui ziarah leluhur; Memperkuat iman dan jejaring sosial di masa kini; serta Membangun masa depan lewat kolaborasi pendidikan.
Di tengah tantangan pembangunan daerah, narasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi keutamaannya adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara akar budaya, kedalaman spiritual, dan inovasi masa depan. +++ marthen/tim












