Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Saat PERBEDAAN Dirajut Jadi KEKUATAN, Kupang adalah RUMAH BERSAMA

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Analogi sederhana ini menjadi kritik halus terhadap cara pandang sempit yang kerap memaksa keseragaman atas nama persatuan.

Dalam konteks wilayah administratif, keberagaman di Kota Kupang bukan teori. Ia nyata hidup dalam komunitas Manggarai, Alor, Jawa, K2S, dan berbagai kelompok lainnya tampil memukau melalui tarian adat, reog, kuda lumping, serta ragam ekspresi budaya lain yang menjadi kekayaan Kota Kupang sebagai Rumah Bersama.

Bahkan dalam momentum Karnaval Budaya pada Sabtu 25 April 2026, keberagaman itu tampil tanpa sekat. Yang menarik, menurut Christian, semua itu terjadi tanpa sokongan anggaran khusus. Masyarakat datang dengan kesadaran sendiri.

Baca Juga :  Kementerian INVESTASI Dorong PEMKOT Kupang DUKUNG DISABILITAS di Sektor EKONOMI

Mereka menari, memainkan reog, menampilkan kuda lumping, dan lain-lain dari beragam etnis bukan karena diminta, tetapi karena merasa memiliki (self of belonging) terhadap Kota Kupang ini. Di situlah letak kekuatan sebenarnya: rasa memiliki yang lahir dari keterlibatan, bukan paksaan.

Baca Juga :  UNIK, Bunda JULIE Laiskodat TOS Kenegaraan Pakai TUAK Manis Dalam HAIK

“Saya terharu,” ujar Christian, mengingat antusiasme warga yang hadir dan menampilkan budaya terbaik mereka dalam waktu singkat.

Pernyataan itu bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi juga pengakuan bahwa pembangunan sosial tak selalu bergantung pada anggaran. Dari spirit “Lilaunol Dael Banan” – ada energi kolektif yang lebih kuat, cinta terhadap kota dan semangat hidup dalam kebersamaan.

FPK Jangan Cuma Simbol

Baca Juga :  ADUH, Bertambah Lagi Covid-19 KOTA Kupang 'Makan' Korban

Namun, harmoni tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan. Di sinilah peran strategis Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menjadi krusial.

Walikota Christian Widodo mengingatkan bahwa organisasi seperti FPK tidak boleh menjadi simbol kosong. Ia harus hidup, bergerak, dan hadir di tengah masyarakat. Ia bahkan menggunakan analogi tajam: kapal tidak dibuat untuk bersandar indah di dermaga, tetapi untuk berlayar menembus gelombang.

Sumber: Siaran Pers
Disclaimer: Artikel Ini Merupakan Kerja Sama CitraNews.Com Dengan Forum Pembauran Kebangsaan Prov.NTT. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Forum Pembauran Kebangsaan Prov.NTT.