Pesan ini jelas: FPK harus turun langsung ke lapangan, menyentuh komunitas, termasuk yang mulai pasif atau terpinggirkan. Dorongan untuk melakukan “safari komunitas” menjadi langkah konkret yang diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan lintas etnis di Kota Kupang.
Optimisme pun mengemuka. Dengan semakin solidnya FPK, agenda kebudayaan dan kebangsaan diyakini akan semakin kuat di masa depan.
Di sisi lain, Theodorus Widodo mengingatkan bahwa pembauran bukanlah proses menghapus identitas. Setiap individu lahir dengan jati diri yang melekat, lalu dibentuk oleh budaya tempat ia tumbuh.
Karena itu, pembauran sejati adalah kemampuan merawat identitas sambil membangun kebersamaan. Sebuah keseimbangan yang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dicapai.
Theodorus Widodo juga menyinggung perjalanan panjang FPK sejak 2008, sebagai bukti bahwa semangat persatuan di NTT bukan sesuatu yang instan. Ia dibangun, diuji, dan terus diperbarui.
Menutup acara, Wali Kota Kupang Christian Widodo mengutip Henry Ford: Datang bersama adalah awal, Tetap bersama adalah kemajuan, dan Bekerja bersama adalah kesuksesan.
Kutipan itu sederhana, tetapi mengandung pesan kuat: persatuan bukan hanya tentang hadir bersama, tetapi tentang bertahan dan berjuang bersama.
Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan, Kota Kupang justru memilih jalan sebaliknya yakni merajutnya menjadi kekuatan
Dan mungkin, di situlah letak keistimewaannya: bukan karena tanpa perbedaan, tetapi karena mampu hidup di dalamnya. +++ marthen/*












