Pernyataan sang Walikota ini mengandung makna lebih luas. ASN, sebagai wajah negara di tingkat lokal, dituntut menjadi teladan. Ketika aparatur patuh, maka legitimasi moral pemerintah dalam menagih pajak kepada masyarakat akan semakin kuat. Namun persoalan pajak bukan hanya soal ASN.
Di sisi lain, pelaku usaha/pengusaha – baik skala kecil maupun besar – juga menjadi bagian penting dari ekosistem penerimaan negara. Di sinilah pemerintah daerah dan otoritas pajak harus berjalan seirama.
Dokter Christian Widodo menekankan bahwa pajak yang dibayarkan masyarakat bukanlah uang yang hilang. Ia akan kembali dalam bentuk jalan, layanan kesehatan, pendidikan, dan berbagai fasilitas publik lainnya. “Pajak adalah siklus, bukan pengorbanan sepihak”, tandasnya.
Dalam pendekatan komunikatif, Wali Kota Kupang bahkan mendorong dibuatnya materi publik seperti video imbauan yang menyasar ASN dan masyarakat umum. Ini menunjukkan bahwa pendekatan persuasif tetap menjadi bagian penting, meski dibarengi dengan ketegasan.
Lebih jauh, Pemerintah Kota Kupang membuka diri untuk mendukung perluasan basis wajib pajak baru. Data menjadi kunci. Tanpa data, potensi hanya akan menjadi angka bayangan yang tak pernah terealisasi.
Dari Perusahaan Daerah Pasar, Dinas Pariwisata, hingga sektor koperasi dan UMKM, seluruh lini diminta untuk berkontribusi dalam penyediaan data usaha. Langkah ini bukan sekadar teknis, melainkan strategi membangun fondasi ekonomi yang transparan.
“Kalau butuh data, kami siap. Itu dasar untuk bergerak,” ujar Christian, menegaskan komitmen kolaboratif yang jarang terlihat dalam hubungan antara pemerintah daerah dan instansi vertikal.
Pernyataan ini sekaligus membongkar satu masalah klasik: lemahnya integrasi data antarinstansi. Dengan komitmen terbuka ini, Kupang mencoba mematahkan sekat-sekat birokrasi yang selama ini menghambat optimalisasi pajak.
Kolaborasi Itu Penting
Di sisi lain, Walikota Christian juga mengingatkan pentingnya responsivitas aparatur. Koordinasi tidak boleh lambat, komunikasi tidak boleh tersendat. Dalam dunia yang bergerak cepat, birokrasi yang lamban hanya akan menjadi beban.
Menariknya, pendekatan yang dibangun tidak semata berbasis target penerimaan. Ada narasi besar yang ingin dibangun: pajak sebagai bagian dari gotong royong modern.












