“Kalau mau cepat, kita bisa jalan sendiri. Tapi kalau mau jauh, kita harus jalan bersama,” ujarnya, mengutip filosofi kolaborasi yang kini menjadi kebutuhan mendesak dalam tata kelola pemerintahan.
Dari sisi KPP Pratama Kupang, apresiasi pun mengalir. Kepala KPP, Jehuda Bill Jonas, menyebut Kota Kupang sebagai salah satu daerah dengan tingkat kepatuhan yang baik di wilayah kerjanya.
Namun pujian itu bukan tanpa pesan. Justru di balik apresiasi, terselip harapan agar capaian tersebut tidak stagnan, apalagi menurun. Konsistensi menjadi tantangan berikutnya.
Jehuda menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya datang untuk bersilaturahmi, tetapi membawa agenda strategis: memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menjaga dan meningkatkan kepatuhan pajak.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya peran ASN dalam pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). “ASN harus menjadi contoh konkret dalam kepatuhan pajak. Kalau ASN patuh, masyarakat akan ikut. Keteladanan itu kunci,” ungkapnya.
Selain itu, KPP Pratama Kupang juga menaruh perhatian pada perluasan basis pajak melalui pemanfaatan data ekonomi lokal. Sektor pasar, pariwisata, dan UMKM dinilai sebagai ladang potensial yang belum sepenuhnya tergarap.
Kolaborasi lintas sektor, dalam konteks ini, menjadi jalan satu-satunya. Tanpa sinergi, potensi akan tetap menjadi potensi – tak pernah berubah menjadi penerimaan nyata.
Audiensi ini pada akhirnya bukan sekadar pertemuan formal. Ia adalah refleksi dari perubahan paradigma: dari pendekatan administratif menuju pendekatan kolaboratif dan strategis.
Kupang sedang membangun fondasi baru di mana pajak tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang dipaksakan, tetapi sebagai kontribusi sadar untuk masa depan bersama.
Dan pesan itu kini sudah jelas bahwa di Kota Kupang, tidak ada ruang lagi bagi yang abai terhadap pajak. Karena di balik setiap rupiah yang dibayarkan, ada harapan pembangunan yang sedang diperjuangkan bersama. +++ marthen/*












