Romanazir melihat Kupang memiliki modal awal berupa posisi geografis, panorama wisata, serta peluang hubungan ekonomi dengan Timor-Leste dan Australia. Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi lebih erat antara Pemerintah Kota Kupang, dunia usaha, serta lembaga pengelola kawasan seperti BP Batam untuk bertukar pengalaman mengenai pengembangan ekonomi kawasan.
Bagi dunia usaha, pembentukan kawasan ekonomi khusus bukan sekadar persoalan label kawasan. Yang lebih penting adalah memastikan pelabuhan, jalan, kawasan industri, perizinan, serta konektivitas perdagangan bekerja dalam satu ekosistem. “Kalau tanpa itu, kedekatan dengan negara lain berisiko hanya menjadi keunggulan geografis yang belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat”, tandasnya.
Batam dan Kupang Jalin Kerjasama
Bagi Romanazir FGD tersebut sekaligus menjadi momentum awal bagi Kadin Batam dan Kadin Kupang untuk membuka ruang kerja sama. Romanazir menyebut komunikasi dengan Ketua Kadin NTT, Bobby Liyanto, menjadi bagian dari langkah awal untuk mempertemukan pengalaman dunia usaha Batam dengan kebutuhan pengembangan ekonomi Kupang.
Di sisi lain, tantangan Kupang adalah bagaimana mengubah peluang lintas batas menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat. Kota ini tidak hanya dapat diarahkan sebagai simpul perdagangan, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai kota pariwisata dan manufaktur. Artinya, sektor perdagangan, industri, jasa, dan pariwisata perlu dirancang agar saling menguatkan.
Pada titik inilah pengalaman Batam menjadi penting untuk dipelajari, bukan untuk disalin begitu saja. Kondisi geografis, struktur ekonomi, infrastruktur, dan karakter masyarakat Kupang berbeda. Tetapi prinsip dasarnya sama: sebuah kota membutuhkan konektivitas, kepastian kebijakan, infrastruktur, investasi, dan kolaborasi agar keunggulan geografis berubah menjadi kekuatan ekonomi.
Bagi Kupang, pembicaraan tentang ekonomi lintas batas akhirnya bukan hanya tentang seberapa dekat kota ini dengan Australia atau Timor-Leste. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa siap Kupang mengubah kedekatan itu menjadi koneksi perdagangan, investasi, lapangan kerja, pariwisata, dan industri.
Maka FGD ini adalah awal membuka pintu pembicaraan. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut memiliki jalan untuk sampai kepada masyarakat. +++ marthen/cnc













