Citra News.Com, KUPANG – HARI Jumat malam (20/3/2026) di Bundaran Tirosa Kota Kupang suasana terasa berbeda. Langit yang biasanya tenang berubah menjadi saksi gemuruh takbir yang bersahut-sahutan, berpadu dengan cahaya lampu kendaraan hias dan wajah-wajah penuh sukacita.
Di tengah riuh rendah itu, terasa ada satu spirit yang mengikat semuanya yaitu Kebersamaan dalam Kupang Bertakbir.
Kupang Bertakbir Season III bukan sekadar pawai menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan dan tempat di mana perbedaan agama, suku, dan latar belakang warga yang ada di Kupang Kota Kasih, melebur dalam satu irama.
Di hadapan ribuan warga, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, berdiri membuka acara dengan pesan yang sederhana namun kuat. Bahwa malam itu bukan hanya milik umat Islam, melainkan milik semua warga Nusa Tenggara Timur.
“Pawai ini adalah pesta keberagaman,” ujarnya dalam nada suara nan mengalir di antara gema takbir yang terus bergulir.
Bagi banyak orang yang hadir, malam itu bukan hanya tentang merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun lebih dari itu, ada rasa bangga menjadi bagian dari sebuah daerah yang menjunjung tinggi toleransi.
Kupang, yang kerap dijuluki “Kota Kasih”, kembali menunjukkan wajahnya yang hangat, terbuka, dan merangkul siapa saja.
Di sepanjang jalan, masyarakat berjejer. Anak-anak melambaikan tangan, orang tua tersenyum, sementara iring-iringan pawai bergerak perlahan membawa nuansa religi yang kental.












