RUBA DEO Potret Inovasi Tiada Henti Kain Tenun Ikat NTT

Hasil kerajinan tenun ikat NTT  semestinya memiliki label hak paten sehingga tidak mudah ditiru pihak lain di luar daerah. Secara hukum bisa diadili pihak manapun yang sengaja ataupun tidak sengaja meniru/menjiplak hasil karya orang lain. Tapi kenyataannya banyak motif yang dijiplak tapi pemerintah NTT adem-adem saja menghadapinya.

Kupang, citra-news.com – PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Timur dinilai sangat tidak berpihak kepada masyarakat. Faktar miris yang terjadi, hampir semua motif tenun ikat yang menjadi ciri khas daerah NTT sudah banyak ditiru pihak  lain di daerah lain di Indonesia. Menjadi pertanyaan dimana tanggung jawab pengawasan pemerintah hal ini Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi NTT.

Pemerintah tidak hanya merasa cukup dengan bantuan dana pengembangan tenun ikat ke kelompok-kelompok masyarakat  sementara hasil produksinya tidak teradvokasi secara benar. Pasalnya, di pasar-pasar grosir banyak dijumpai kain-kain industri menirukan motif tenun ikat NTT. Kain seragam entah untuk anak sekolah juga khalayak dengan motif NTT.

Alasan kualitas  sehingga tidak laku dijual di pasaran oleh banyak pihak beranggapan hanya sebuah alasan kamuflase untuk lari dari tanggung jawab pengawasan hak cipta. Sementara peredaran motif kain tenun ikat NTT demikian laris manis beredar di pasaran nasional bahkan internasional.

“Biar supaya motif NTT juga dikenal banyak orang. Itu urusan pemerintah. Yang kami bisa lakukan adalah bagian yang kami bisa hasilkan berupa kain tenun dengan motif-motif kita yang khas. Semakin beraneka kekhasan yang ada semakin banyak pilihan konsumen. Kalau sudah banyak laku kan kita untung,”ungkap Ina Tina seadanya.

Wanita asal Sabu dan mengaku dari kelompok Tenun Ikat RUBA DEO itu ditemui citra-news.com di bilangan Jl. Polisi Militer Kota Kupang, Rabu 23 Mei 2018. Dalam kesibukkannya merenda kain tenun dengan berbagai motif khas NTT dengan warna kuning keemasan itu, Ina Tina bertutur, bekal ketrampilan mewarnai diatas kain tenun ikat bermotif itu didapat ketika pada suatu kesempatan pelatihan wanita kelompok tenun ikat asal NTT di Palembang beberapa waktu lalu.

Untuk mempertegas warna kuning biar lebih mengkilap, kata Ina Tina, diatas kain yang bermotif ditambahkan semacam lem perekat mengikuti garis-garis motif yang sudah ada. Setelah beberapa menit dibiarkan perekat berwarna putih susu itu berubah menjadi warna hitam. Saat semuanya sudah hitam diatasnya ditaburi jeli (kuning keemasan). Dari jeli inilah kain motif dengan warna dasar kuning pudar menjadi kuning mengkilap keemasan.

“Gampang sa sonde (saja tidak) susah kerjanya. Nanti kalo su (kalau sudah) jadi seperti ini warnanya jadi kuning mengkilap. Dia sonde akan pudar selamanya. Asal jangan sering cuci apalagi pakai sabun deterjen.  Iya ini ju karna beta (juga karena saya) ikut pelatihan di Palembang,”jelas Ina Tina dengan tidak merinci harga per lembar kain tenun ikat itu.

Menurut dia, perekonomian saat ini mengikuti trend masa kini. Daya beli konsumen akan meningkat selain kualitas kain dan motif, juga ada inovasi-inovasi baru yang sekiranya kita bisa lakukan, iya kita lakukan. Dari nilai inovasi ini maka aspek keuntungan bisnis, iya, lebih menguntungkan, tandasnya. +++ cnc1

 

Gambar : Aksi Ina Tina memodifikasi Kain Tenun Ikat Motif NTT. (doc. marthen radja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *