Nainggolan Sebut INFLASI NTT Mencapai Angka 2 Persen

Upaya kerja kerja, kerja cerdas, dan kerja tuntas  dari seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dibawah kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya telah membuahkan hasil. Faktanya, sejak lima tahun terakhir inflasi NTT bertumbuh hingga mencapai angka 2 persen.

Kupang, citra-news.com – NAEK TIGOR NAINGGOLAN, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kupang, mengatakan pada awal kepemimpinan Frans Lebu Raya sebagai Gubernur, hasil penilaian tahun 2014 TPID NTT mendapat Piagam Penghargaan.

“Ketika awal pak Frans Lebu Raya jadi Gubernur NTT upaya-upaya advisor yang kita lakukan adalah memitigasi risiko-risiko dan bagaimana upaya kita mengendalikan inflasi.  Alhasil pada tahun 2014 penilaian inflasi kita dan diberikan penghargaan oleh Presiden RI pada tahun 2015. Bahwa Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi NTT (TPID NTT) mendapat Penghargaan dari Presiden RI sebagai TPID Terbaik,”kata Nainggolan kepada wartawan di GOR Oepoi Kupang, Jumat 13 Juli 2018.

Nainggolan membeberkan, Inflasi NTT sejak 5 tahun terakhir dimulai dari angka 8 persen kita bisa mencapai angka 2 persen. Ini tidak terlepas dari kerja keras OPD-OPD yang ada dibawah kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya selaku Ketua TPID. Kita juga melakukan sinergisisitas dengan semua OPD melalui strategis penilaian inflasi atau yang dikenal dengan 7 Pengendalian. Mulai dari pengendalian infrastrutur sampai dengan pengendalian ekspektasi dan sebagainya. Ini kita harapkan sebagai modal yang baik dalam membangun NTT ke depannya.

Pengendali inflasi juga, lanjut dia, mendapat penilaian pada tahun 2017 dimana Inflasi NTT tercapai dengan baik. Dan besar kemungkinan sebagai nominator TPID Terbaik di Kawasan Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.

“Mudah-mudahan tanggal 26 Juli 2018 ini nantinya kita memperoleh yang terbaik hasilnya. Walaupun ini masih nominasi dengan penilaian hasil yang belum final. Tapi ini adalah prestasi karena pada tahun 2017 kemarin mencapai angka baik,”ucap Nainggolan.

Dikatakan, sebagaimana kita ketahui di awal tahun 2018 program unggulan kita adalah bagaimana kita melakukan Sinergisitas antara seluruh OPD dan bagaimana kita melakukan kerjasama antar daerah. Seperti misalkan pada pertengahan tahun 2017 harga cabe rawit meningkat. Namun  dengan kesigapan dari sinergisitas yang ada ternyata itu bisa dilakukan operasi pasar sehingga pengendalian cabe rawit dapat berjalan dengan baik.

“Itu merupakan kesuksesan karena harga cabe dengan infalsi sekitar 58 persen tapi pada bulan Januari 2018 bisa minus sampai dengan minus 6 persen. Ini merupakan suatu terobosan dan bagaimana sinergisitas yang terjadi antara Bank Indonesia sebagai fungsinya infanseri kepada OPD-OPD yang ada. Ini yang mungkin dipandang oleh bapak Gubernur Frans Lebu Raya menjadi suatu nilai plus dari fungsi BI di daerah,”tegasnya.

Kampung Industri Tenun Ikat

Menurut Nainggolan, Bank Indonesia juga tengah gencar mengembangkan ekonomi kreatif. Dimana telah membangun 6 Kampung Industri Tenun Ikat dalam mana berupaya untuk bagaimana mensinergikan para penenun yang ada di lokasi-lokasi tertentu untuk bergabung dalam satu rumah tenun.

Pihak Bank Indoensia (BI) juga, tambah dia, memikirkan aspek pemasarannya. Diantaranya melalui pameran-pameran dimana tahun 2018 adalah ketiga kalinya BI membuka Basar Pameran Tenun Ikat. Pada tanggal 20 Juli 2018 BI Perwakilan NTT akan bawa juga ke JCC  (Jakarta Convention Centre) dengan target omzet penjualannya sampai dengan 250 juta.

Untuk lebih memasyarakatkan lagi BI menjadikan Kampung Tenun sebagai Destinasi Wisata Maksudnya, jelas Nainggolan, untuk memperkenalkan kepada wisatawan bagaimana proses menenun yang wisatawan tidak harus datang ke rumah-rumah penduduk tetapi cukup mengunjungi kampung-kampung tenun saja.

“Salah satunya seperti yang baru kami resmikan di Waingapu Kabupaten Sumba Timur dengan konsep rumah adat kampung tenun. Jadi selain pengembangan UMKM, peningkatan peran perempuan juga bagaimana mengembangkan sebagai destinasi wisata,”tandasnya.

Selain Waingapi, sebut Nainggolan, juga dibangun Kampung Tenun di Perbatasan yakni di Kabupaten Belu. Kita bangun rumah tenun yang terintegrasi dengan tempat fashion (pameran kain tenun ikat) dan sebagainya.

Ini semua, menurut Nainggolan, merupakan suatu upaya kita untuk mengembangkan pertumbuhan-peertumbuhan ekonomi baru. Ke depan bagaimana kita mengangkat tenun-tenun ikat NTT ini yang bukan bukan saja untuk skala nasional tetapi juga berskala nasional.

“Kami yakni dengan kepemimpinan yang baru nanti terutama ibu Laiskodat Gubernur NTT yang baru nanti akan kita lebih dorong lagi. Karena beliau juga sangat konsen dengan pengembangan tentun ikat NTT,”ucapnya.

Menjawab wartawan peluang TPID NTT mendapat Award, Nainggolan menyatakan sudah ada titik terang untuk meraih Award. Karena pada pecan lalu (awal Juli 2018) pihak BI sudah melakukan tele conference dengan Tim Assesor yang terdiri dari Kementerian Perekonomian, Kemendagri, dan ada 20 orang professor.

“Saya memandang hasilnya baik. Karena pak Gubernur Frans Lebu Raya langsung turun dan melakukan video conference. Dan ini mudah-mudahan bisa menjadi modal kita pada tanggal 26 Juli nanti akan dilakuan rapat Koordinasi Nasional yang dibuka oleh Presiden RI. Sehingga setiap tahun diberikan penghargaan (Award) bagi Tim Pengendali Inflasi Terbaik untuk semua kabupaten/kota NTT. Jadi mudah-mudahan walaupun belum diumumkan tapi NTT sebagai Nominator, saya rasa itu sudah merupakan langkah yang baik,”kata Nainggolan. +++cnc1

Gambar : Naek Tigor Nainggolan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kupang saat memberikan keterangan pers di Kupang, Jumat 13 Juli 2018. Doc. marthenradja/CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *