Fofo : Kami SERIUS Menjalankan Proyek SMELTER MANGAN

Kehadiran PT Gulf Mangan Grup turut membantu membangkitkan perusahaan-prusahaan produksi mangan yang selama ini ‘mati suri’. Terutama memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur khususnya dan kesejahteraan rakyat Indonesia pada umumnya.

Kupang, citra-news.com – FOFO SARIAATMADJA, Presiden Komisaris PT Gulf Mangan Group menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui aktivitas investasi di sector industi pemurnian mangan (smelter) di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Kami serius membangun proyek smelter mangan ini. Satu kata kunci adalah kita SERIUS untuk melanjutkan proyek ini. Kenapa saya katakan ini. Saya disini hadir atas nama Jayatama Tekno Sejahtera Group melalaui anak perusahaan Jayatama Global Investindo bermitra dengan Gulf Mangan Australia. Kami bareng-bareng gabung untuk menyatakan komitmen kita melakukan pembangunan smelter mangan ini dengan serius,”tegas Fofo.

Kepada wartawan FOFO didampingi Presiden Direktur PT Mangan Grup, Hamish Bohannan, saat peresmian pembangunan pabrik smelter mangan di Kawasan Industri Blok (KIB) Kupang, Jumat 20 Juli 2018 menyebutkan, nilai investasi untuk membangun smelter mangan tersebut sebesar 25 miliar dollar.  Sementara  peralatan smelternya sudah ready (siap) dan segera dipasang di lokasi, tandasnya.

Menjawabi permintaan Frans Lebu Raya dan Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon, agar PT Gulf Mangan Grup tidak terulang lagu mengecewakan masyarakat. Karena ditengarai beberapa perusahaan sebelumnya yang sudah melakukan ground breaking pabril smelter mangan tapi gagal. Karena itu diharapkan PT GMG tidak lagi jadi PT AKAN dan serius membangun.

“Saya yakin smelter mangan ini yang pertama kali beroperasi di Provinsi NTT. Multiplier effect-nya juga untuk kesejahteraan masyarakat NTT. Karena kalau ada smelter maka lokasi tambang mangan juga akan jalan. Kalau ndak ada tambang iya smelter mau dapat makannya dari mana,”ungkap Fofo.

Dari angka investasi yang sangat besar ini, menurut Fofo, menunjukkan PT Gulf Mangan Grup (GMG) tidak main-main membangun industri smelter mangan di Bolok Kupang Provinsi Nusa Tenggara Indonesia.

Dikatakan, untuk ekspor hasil produksi smelter, PT GMG bisa melakukan dalam bentuk row materailnya juga. Dengan begitu besar jumlah produk mining-nya dari pengumpul dan dari perusahaan-perusahaan yang ada ikatan kerjasama dengan PT GMG.

“Iya kalau lebih gampangnya kita beli dari perusahaan atau PT-PT yang ada. Kan sudah ada perusahaan yang dulu sempat mengumpulkan produk mangan. Namun karena peraturan pemerintah dimana UU melarang tidak boleh mengekspor mangan dalam bentuk row material. Akibatnya banyak perusahaan yang gagal mengantarpulaukannya,”tandasnya.

Akan tetapi, lanjut dia,  UU yang baru harus ada smelter-nya. Artinya dari produk mangan itu kemudian dilakukan pemurnian terlebih dahulu. Dari kerja-kerja pemurnian ini sudah tentu membutuhkan banyak tenaga kerja non teknis yang sebagai besar kita ambil tenaga kerja lokal. Kecuali tenaga teknis atau tenaga ahli yang membutuhkan kualifikasi tertentu, itu kita ambil dari orang luar NTT.

“Untuk produk mining (Mangan) sementara waktu diijinkan juga untuk mengekspor row material. Sehingga sama-sama bisa produksi dan melakukan cash flow. Dengan demikian perusahaan-perusahaan yang tadinya udah ‘tidur’  itu bisa hidup kembali. Juga bisa menyerap tenaga kerja lokal sebanyak-banyaknya,”ucap Fofo.

Disebutkan, sejauh ini ada 18 perusahaan yang sudah mau bekerjasama dalam memproduksi mangan. Dari hasil produksi yang ada nantinya sesuai dengan kapasitas produksinya pada mesin smelter yang untuk tahap pertama ini ada dua mesin. Kemudian nanti kita tingkatkan menjadi 4 dan seterusnya kelipatan 4 tapi kita sesuaikan dengan kapasitas produksinya. Jadi ini semua bertahap. Kita tidak mau gegabah dalam menjalankan investasi ini. Harus secara matang mempersiapkannya mulai dari maintenance sampai pada sumberr daya manusia (SDM).

Dia menambahkan, khusus untuk SDM non teknis, tentunya tahap pertama kita harus melatih dalam artian tenaga dai luar memberkan pelatihan bagi tenaga kerja lokal dalam transfer of knowledge and transfer of skills itu yang perlu. Sehingga mereka menjadi tenaga kerja yang sudah terlatih dalam kondisi dan suasana kerja yang baru. Kalau mereka-mereka yang direkruit awal ini sudah terlatih dengan baik maka mereka ini akan menjadi trainner for the next worker (pelatih bagi tenaga kerja selanjutnya).

Sesuai dengan UU Ketenagakerjaan ini kita harus jaga selain skill juga keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja yang ada di dalamnya. Jumlah tenaga kerja pada tahap awal dibutuhkan 200-300 tenaga kerja. Nanti pada tahap-tahap selanjutnya akan ditambah sesuai dengan beban kerja yang ada. +++ cnc1

Gambar : Presiden Komisaris PT Gulf Mangan Group FOFO SARIAATMADJA (tengah) didampingi Johanes Susilo dan Presiden Direktur, Hamish Bohannan. Doc. marthenradja/CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *